MUNGKID – Saparan sedekah bumi di Desa Soroyudan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang dimanfaatkan Bupati Magelang Grengseng Pamuji untuk menyampaikan pesan menjaga bumi.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan saparan sedekah bumi ini bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, Saparan Sedekah Bumi merupakan tradisi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkah yang telah dilimpahkan, terutama pada hasil bumi.
Kegiatan ini sekaligus merupakan cerminan kerukunan, gotong royong, dan semangat kebersamaan yang telah dijaga turun-temurun oleh para leluhur di desa Soroyudan. Momen ini membuat rasa bangga dimana di tengah gempuran modernisasi nilai-nilai budaya tetap dipertahankan.
Baca Juga: Guru dan Tenaga Medis Rayu Siswa Menangis, BIAS di Kecamatan Srumbung, Magelang untuk Anak Usia SD
"Tradisi ini adalah identitas kita, kekayaan kita, yang harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi mendatang," kata Grengseng Pamuji dalam sambutannya, Kamis (21/8).
Lebih lanjut Grengseng mengatakan Pemerintah Kabupaten sangat mendukung dan mengapresiasi setiap inisiatif masyarakat dalam menjaga kearifan lokal. Ia meminta agar momen Saparan Sedekah Bumi ini bisa terus dipertahankan dan dilestarikan untuk mempererat tali silaturrahmi.
Selain itu ia juga menekankan agar tidak hanya budaya yang terus dipertahankan melainkan kelestarian lingkungan juga harus tetap dijaga, salah satunya adalah sumber mata air yang kian lama kian habis, melihat kebutuhan air di desa Soroyudan sangatlah vital bagi pengairan di persawahan bagi para petani yang berimplikasi pada ketahanan pangan di masa yang akan datang.
Baca Juga: Empat Ribu Nasi Penggel Disiapkan untuk Hari Jadi Kebumen Ke-369 di Jalan Merdeka
Hari ini kelestarian lingkungan utamanya keberadaan mata air sangatlah penting. Dimana sebagian besar digunakan untuk pengairan sawah. Apabila ketersediaan air bersih semakin menipis, maka dampaknya akan berakibat buruk bagi hasil pertanian.
Dia menekankan agar kelestarian mata air ini dapat terus dijaga, sehingga ketersediaan air ini bisa tetep digunakan untuk warga setempat utamanya di bidang pertanian. “Caranya bagaimana, ya jangan menebangi pohon-pohon yang berfungsi untuk menyerap persediaan air, utamanya air tadah hujan," tegas Grengseng.
Baca Juga: Empat Ribu Nasi Penggel Disiapkan untuk Hari Jadi Kebumen Ke-369 di Jalan Merdeka
Kepala Desa Soroyudan Sahudi menyampaikan kegiatan saparan ini telah dilakukan secara turun temurun sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan.
Pada kesempatan yang sama, Sahudi juga melaporkan sebagian besar warga di Desa Soroyudan ini bermata pencaharian sebagai petani. Kendati demikian, ada beberapa kendala yang sering kali membuat para petani mengalami kesulitan, salah satunya adalah masalah pengairan. "Dalam hal ini kami memohon bantuan agar diberi alat atau mesin tenaga surya yang bisa membantu untuk memompa air sehingga lahan pertanian bisa terairi dengan baik," pintanya. (uma/pra)
Editor : Heru Pratomo