MUNGKID – Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang mencatat luas areal tanam tembakau pada musim 2025 mencapai sekitar 3.500 hektare. Angka ini meningkat dari musim sebelumnya yang hanya sekitar 3.250 hektare.
Kepala Bidang Perkebunan, Distanpangan Kabupaten Magelang Widiarto Tri Saksono mengutarakan, saat ini yang masih bisa menanam tembakau kebanyakan petani di dataran tinggi. Dia menyebut kawasan produktif tembakau kini terpusat di lereng Gunung Sumbing, Merapi, dan Merbabu.
Dia menambahkan, salah satu perubahan paling mencolok dalam dua tahun terakhir adalah bergesernya metode pengolahan daun tembakau. Jika dulu petani biasa merajang daun sebelum dijemur di bawah terik matahari, kini banyak yang mulai meninggalkan cara itu.
Kondisi cuaca yang kian tidak menentu membuat proses penjemuran tradisional sulit dilakukan. Para petani pun beralih ke teknik pengeringan dengan diangin-anginkan di tempat tertutup namun berventilasi baik. Baik di dalam ruangan maupun di teras yang terlindung dari hujan.
Widiarto menyebut, metode ini melahirkan jenis olahan baru yang dikenal dengan tembakau krosok. Daun tembakau dijemur tanpa dirajang, hanya dijepit atau digantung setelah bagian pangkalnya ditusuk bilah bambu.
Proses pengeringan berlangsung selama 15 hingga 20 hari, tergantung tingkat kelembaban udara di wilayah dataran tinggi.
Perubahan pola pascapanen ini terutama banyak ditemukan di wilayah timur Magelang, seperti Kecamatan Ngablak dan Pakis. Di sana, petani rerata telah mempraktikkan dua model sekaligus, menghasilkan tembakau rajangan dan krosok, untuk menyesuaikan permintaan pasar.
Baca Juga: Alumni UMY Ini Tega Tak Lantik Kakak Sendiri sebagai Inspektur NTB Meski Nilai Tertinggi
Meski tembakau krosok dinilai kurang bernilai jual dibanding rajangan kering, namun dari sisi permintaan, justru lebih cepat terserap pasar. Kepala Distanpangan Kabupaten Magelang Romza Ernawan menegaskan, kualitas produk krosok tidak perlu diragukan.
Tembakau krosok justru terbukti laku keras di pasaran karena banyak pabrikan yang mulai meminatinya. "Bahkan ada petani yang dipercaya memasok hingga 40 ton per musim," lontarnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo