MAGELANG - Bagi sopir dan pengusaha angkot di Kota Magelang, peluncuran program 'Jempol' atau Jemput Pelajar Kota Magelang bukan sekadar proyek transportasi. Melainkan napas baru di tengah sepinya penumpang. Program yang diinisiasi pemkot ini menghadirkan angkutan pelajar gratis dengan jumlah 27 armada.
Ketua Koperasi Angkutan Umum Perkotaan (Kopata) Kota Magelang Darsono menuturkan, para sopir dan pengusaha menyambut program ini dengan antusias dan rasa lega. "Ini sangat membantu masyarakat dan memberi harapan baru bagi kami karena ada pendapatan yang pasti setiap hari," ujarnya di Terminal Tipe C Magersari, Jumat (24/10).
Baca Juga: Polisi Amankan 8,9 Gram Sabu di Magelang, Pelaku Beraksi dengan Sistem Tempel dan Transaski Langsung
Dia menyebut, total ada 27 unit angkot sudah siap beroperasi di delapan rute utama yang melintasi sekolah-sekolah di seluruh wilayah kota. Setiap kendaraan berkapasitas 12 penumpang, dengan jadwal antar pukul 05.30–07.00 dan jemput pukul 13.30–15.00. Adapun pembayarannya dilakukan setiap pekan melalui koperasi.
Rinciannya, kata dia, Rp 144 ribu per unit per hari. Setelah itu, barulah diberikan kepada sopir. Darsono menilai, sistem ini membuat sopir tidak khawatir sepi penumpang. "Program ini juga menghidupkan lagi angkot yang sempat ditinggalkan masyarakat," jelas Darsono.
Dia menambahkan, meski ditujukan bagi pelajar SD-SMA yang berdomisili di Kota Magelang, siswa dari kabupaten yang bersekolah di wilayah Kota Magelang tetap bisa ikut naik. Mereka cukup menunggu di sepanjang rute yang dilewati, tidak harus di halte.
Dia menyebut, total ada 27 unit angkot sudah siap beroperasi di delapan rute utama yang melintasi sekolah-sekolah di seluruh wilayah kota. Setiap kendaraan berkapasitas 12 penumpang, dengan jadwal antar pukul 05.30–07.00 dan jemput pukul 13.30–15.00. Adapun pembayarannya dilakukan setiap pekan melalui koperasi.
Rinciannya, kata dia, Rp 144 ribu per unit per hari. Setelah itu, barulah diberikan kepada sopir. Darsono menilai, sistem ini membuat sopir tidak khawatir sepi penumpang. "Program ini juga menghidupkan lagi angkot yang sempat ditinggalkan masyarakat," jelas Darsono.
Dia menambahkan, meski ditujukan bagi pelajar SD-SMA yang berdomisili di Kota Magelang, siswa dari kabupaten yang bersekolah di wilayah Kota Magelang tetap bisa ikut naik. Mereka cukup menunggu di sepanjang rute yang dilewati, tidak harus di halte.
Baca Juga: Ratusan Santri dan Alumni Pesantren di Magelang Gelar Aksi Damai Tuntut Tayangan di Trans7 Dihentikan
Kehadiran Jempol juga disambut gembira para pelajar. Siswa SMP Negeri 5 Kota Magelang Panji mengaku, angkutan gratis ini akan sangat membantunya dalam perjalanan ke sekolah. "Senang banget, jadi nggak perlu dijemput atau diantar orang tua. Tinggal nunggu angkot lewat depan perumahan," ujar warga Perumahan Ngembik, Magelang Utara itu.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan, Jempol bukan hanya kebijakan transportasi, melainkan jawaban atas masalah sosial dan lingkungan yang dihadapi kota kecil dengan lalu lintas padat ini. "Kami ingin anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan aman, mudah, dan tanpa terbebani biaya transportasi," bebernya.
Kehadiran Jempol juga disambut gembira para pelajar. Siswa SMP Negeri 5 Kota Magelang Panji mengaku, angkutan gratis ini akan sangat membantunya dalam perjalanan ke sekolah. "Senang banget, jadi nggak perlu dijemput atau diantar orang tua. Tinggal nunggu angkot lewat depan perumahan," ujar warga Perumahan Ngembik, Magelang Utara itu.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan, Jempol bukan hanya kebijakan transportasi, melainkan jawaban atas masalah sosial dan lingkungan yang dihadapi kota kecil dengan lalu lintas padat ini. "Kami ingin anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan aman, mudah, dan tanpa terbebani biaya transportasi," bebernya.
Baca Juga: Mengenal Tokoh Wayang Pembawa Rezeki: Inspirasi untuk Keberuntungan Anda
Dia menjelaskan, dalam lima tahun terakhir jumlah angkutan umum di Kota Magelang menyusut drastis menjadi hanya 146 unit pada 2024. Sementara kendaraan pribadi meningkat pesat. Akibatnya, rasio kepadatan jalan mencapai 88,38 persen, disertai lonjakan polusi dan biaya transportasi keluarga.
Karena itu, Jempol hadir sebagai bentuk kehadiran pemerintah untuk masyarakat, membantu pelajar, sekaligus menghidupkan kembali transportasi publik. Damar juga mengingatkan agar pengemudi menjaga kebersihan dan disiplin selama bertugas. "Seluruh armada harus bersih, bebas rokok, dan sopirnya tidak boleh merokok," tegasnya.
Dia menjelaskan, dalam lima tahun terakhir jumlah angkutan umum di Kota Magelang menyusut drastis menjadi hanya 146 unit pada 2024. Sementara kendaraan pribadi meningkat pesat. Akibatnya, rasio kepadatan jalan mencapai 88,38 persen, disertai lonjakan polusi dan biaya transportasi keluarga.
Karena itu, Jempol hadir sebagai bentuk kehadiran pemerintah untuk masyarakat, membantu pelajar, sekaligus menghidupkan kembali transportasi publik. Damar juga mengingatkan agar pengemudi menjaga kebersihan dan disiplin selama bertugas. "Seluruh armada harus bersih, bebas rokok, dan sopirnya tidak boleh merokok," tegasnya.
Baca Juga: Mengenal Tokoh Wayang Pembawa Rezeki: Inspirasi untuk Keberuntungan Anda
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang Candra Wijatmiko Adi memastikan, seluruh armada Jempol telah memenuhi standar teknis dan administrasi. Program ini dijalankan dengan sistem swakelola bekerja sama dengan Kopata, dan dibiayai penuh dari APBD senilai Rp 280,84 juta, dengan tambahan dukungan CSR sebesar Rp 108 juta.
Adapun jam operasional disesuaikan dengan waktu belajar siswa. Dengan jadwal antar pukul 05.30–07.00 dan jemput pukul 13.30–15.00. Semua armada juga dilengkapi GPS agar bisa dipantau secara real-time.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang Candra Wijatmiko Adi memastikan, seluruh armada Jempol telah memenuhi standar teknis dan administrasi. Program ini dijalankan dengan sistem swakelola bekerja sama dengan Kopata, dan dibiayai penuh dari APBD senilai Rp 280,84 juta, dengan tambahan dukungan CSR sebesar Rp 108 juta.
Adapun jam operasional disesuaikan dengan waktu belajar siswa. Dengan jadwal antar pukul 05.30–07.00 dan jemput pukul 13.30–15.00. Semua armada juga dilengkapi GPS agar bisa dipantau secara real-time.
"Untuk tahun ini memang hanya 27 armada, tapi tahun depan akan ada penambahan lagi 20 armada," lontarnya.
Selain menggunakan trayek lama, dishub juga menyiapkan jalur khusus (rerouting) untuk menjangkau lebih banyak sekolah di wilayah kota. Setelah jam sekolah usai, angkot diperbolehkan kembali melayani penumpang umum, agar pengemudi tetap memperoleh penghasilan tambahan. (aya)
Selain menggunakan trayek lama, dishub juga menyiapkan jalur khusus (rerouting) untuk menjangkau lebih banyak sekolah di wilayah kota. Setelah jam sekolah usai, angkot diperbolehkan kembali melayani penumpang umum, agar pengemudi tetap memperoleh penghasilan tambahan. (aya)