MAGELANG – Menyambut puncak musim hujan, Kota Magelang meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti genangan air, angin kencang, dan longsor ringan.
Berdasarkan data BMKG, curah hujan rata-rata di wilayah ini mencapai 300 milimeter per bulan, dengan puncak intensitas diprediksi terjadi November hingga Januari mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang, Machbub Yani Arfian, menegaskan meski kota ini relatif aman dari bencana besar, ancaman peristiwa kecil tetap ada.
“Genangan air dan longsor ringan menjadi yang paling sering terjadi. Kota Magelang relatif aman, biasanya hanya angin kencang atau genangan saja,” ujarnya usai apel kesiapsiagaan di Mapolres Magelang Kota, Senin (3/11).
Machbub menjelaskan sebagian besar longsor ringan terjadi akibat pondasi bangunan lemah atau drainase tersumbat, bukan kemiringan lahan ekstrem. Genangan air muncul ketika saluran tidak bisa menyalurkan air hujan secara lancar, sehingga berpotensi merusak struktur tanah sekitar.
Upaya mitigasi dilakukan BPBD bersama Dinas Lingkungan Hidup melalui pengecekan rutin, pemangkasan pohon berisiko tumbang, dan edukasi mitigasi bencana.
Di sekolah, pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) membantu siswa dan guru memahami langkah penyelamatan saat terjadi bencana. Sosialisasi kesiapsiagaan juga digelar di rusunawa dan kelurahan.
“Kalau masalah masih bisa diatasi keluarga, segera lakukan. Tapi jika berat, segera laporkan ke BPBD agar cepat ditangani,” kata Machbub.
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi, termasuk Damkar, TNI, Polri, PMI, dan relawan, agar penanganan bencana berjalan cepat dan efektif. Ia juga meminta pemetaan wilayah rawan, perbaikan drainase, dan kesiapan peralatan penanggulangan selalu diperkuat.
“Beberapa kejadian longsor kecil dan pohon tumbang dalam dua tahun terakhir menjadi pengingat agar kewaspadaan terus ditingkatkan,” tegas Damar.
Hingga saat ini, tercatat jumlah insiden relatif sedikit, kurang dari 50 per tahun, sebagian besar berupa genangan air, pohon tumbang, dan longsor kecil.
Editor : Heru Pratomo