MUNGKID - Pemerintah Desa (Pemdes) Tuksongo, Borobudur bersiap menebang pohon randu alas yang selama ratusan tahun menjadi ikon desa. Keputusan itu diambil setelah pohon berusia lebih dari dua abad itu dinyatakan mati dan dinilai membahayakan keselamatan warga serta wisatawan yang kerap beraktivitas di kawasan Lapangan Randu Alas.
Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim mengatakan, rencana penebangan bukan keputusan yang diambil dengan ringan. Pohon randu alas selama ini bukan sekadar peneduh, tetapi juga penanda sejarah dan identitas Desa Tuksongo.
Di satu sisi, sebetulnya dia sangat menyayangkan penebangan pohon itu. "Pohon randu alas itu ikon desa kami. Dari cerita orang tua, sejak zaman simbah saya pohon itu sudah besar. Usianya kemungkinan lebih dari 200 tahun," kata Karim saat ditemui, Rabu (7/1).
"Yang kecil-kecil sudah sering jatuh. Saya khawatir. Mau rehab rumah juga takut, nanti ketiban lagi," ungkapnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan warga lain, Atmojo. Meski memahami alasan keselamatan, dia berharap, penebangan tidak dilakukan secara total. "Sayang sekali kalau ditebang habis. Paling tidak disisakan beberapa meter sebagai penanda," lontarnya.
Atmojo menilai, perubahan ikon desa bukan perkara mudah. Menurutnya, menyisakan bagian batang pohon dapat menjaga memori kolektif warga terhadap randu alas sebagai simbol Desa Tuksongo. (aya)