MAGELANG – Banjir lahar hujan yang menerjang aliran sungai berhulu Merapi pada Selasa (3/3) sore tercatat sebagai yang terdahsyat sejak erupsi 2010. Bencana ini tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan total infrastruktur, merusak belasan alat berat, serta memutus kebutuhan dasar ribuan warga.
Dandim 0705/Magelang Letkol Inf Afrizal Rakhman menegaskan bahwa skala kerusakan kali ini luar biasa. Material vulkanik berupa batu-batu besar yang datang mendadak menyapu bersih bangunan di sepanjang aliran sungai.
Baca Juga: Detik-Detik Djuradi Menyelamatkan Diri dari Longsor Batu: Pas Lari, Batu Sudah Turun dari Atas
"Ini terbesar sejak 2010. Debit air sangat besar dan membawa material masif yang langsung menghantam kawasan bawah," ujar Letkol Inf Afrizal di Sungai Senowo, Rabu (4/3).
Infrastruktur dan Alat Berat Hancur Dahsyatnya arus menyebabkan kerusakan fisik yang sangat parah. Sejumlah titik di area bendungan, termasuk warung-warung milik warga, tersapu bersih tanpa sisa. Tercatat belasan alat berat dilaporkan rusak hingga tertimbun material vulkanik, yang kini memperparah kondisi di lapangan dan menghambat akses distribusi.
Baca Juga: Kemenkes Perkuat Imunisasi dan Edukasi Lawan Hoaks, 87 Daerah Alami KLB Campak pada 2025
Krisis Air Bersih Meluas Kerusakan infrastruktur paling krusial terjadi pada jaringan air bersih. Sekretaris Desa Keningar, Suratman, menyebut pipa distribusi dari kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) terputus total.
"Sekitar 500 sambungan rumah terdampak, melibatkan 1.500 jiwa di Desa Keningar, Argomulyo, dan sebagian Sumber," jelasnya. Sistem Pamsimas yang dibangun sejak 2014 ikut hancur, menyebabkan pasokan air berhenti total selama belasan jam.
Baca Juga: Spesial Bulan Ramadan, Thank You Very March Hadir Bagi Pecinta Motor Honda
Update Korban Jiwa Selain dampak fisik, tim gabungan telah mengevakuasi tiga korban meninggal dunia: Imam Setiawan (21) asal Semarang, serta Fuad Hasan (25) dan Heru (24) asal Magelang. Saat ini, dua korban lainnya masih dalam proses pencarian intensif oleh tim gabungan.
Kepala Desa Sewukan, Yeyen Rifai, menyatakan keprihatinannya atas skala kerusakan yang terjadi. "Ini lebih parah dari 2010. Kami sangat berharap segera ada langkah pemulihan untuk infrastruktur yang hancur," pungkasnya.
Editor : Heru Pratomo