MUNGKID - Sebanyak 25 balon udara warna-warni menghiasi langit kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Minggu (31/5/2026), dalam Bhumi Mandala Festival yang menjadi bagian rangkaian perayaan Waisak 2570 BE/2026. Atraksi tersebut menyedot antusiasme ribuan warga yang memadati lokasi sejak pagi hari.
Sejak pagi buta, warga dari berbagai daerah sudah memadati area sekitar lapangan. Sebagian duduk di pematang sawah, sebagian lain berdiri berdesakan di tepi lokasi penerbangan. Tidak lupa, mereka sibuk mengabadikan momen itu dengan ponsel.
Ketua Panitia Borobudur Peace & Prosperity Festival (BPF) 2026 Jeffry Yunus mengutarakan, kegiatan ini sekaligus masuk dalam agenda BPF 2026. Pertunjukan balon udara menjadi satu daya tarik utama dalam festival tahun ini. Sekitar 25 balon udara yang dibawa oleh komunitas balon udara dari Wonosobo tampil, menghadirkan panorama unik dengan latar cagar budaya dan suasana pagi yang sejuk.
Baca Juga: Kalah Start dari Negara Non-Muslim, RI Baru Kuasai 4 Persen Pasar Ekspor Halal OKI
"Puluhan balon udara warna-warni menghiasi langit dan berpadu dengan kemegahan situs budaya," ujar Jeffry, Minggu (31/5/2026).
Dia menegaskan, BPF 2026 bukan sekadar festival biasa. Melainkan ruang perjumpaan global yang mempertemukan berbagai budaya, agama, komunitas, dan pemimpin dari berbagai negara. Melalui tema 'One Light, One World', festival ini ingin menegaskan bahwa seluruh umat manusia berbagi satu cahaya kehidupan yang sama.
Kepala Desa Ngawen Daru Hapsari menambahkan, total ada 25 balon udara yang disiapkan dalam rangka Festival Bhumi Mandala. Kegiatan ini merupakan kali keempat yang diselenggarakan bebarengan dengan Tri Suci Waisak.
"Bhumi Mandala adalah bahwa tanah di Ngawen merupakan bumi yang bisa dimanfaatkan untuk sesama," bebernya.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Salurkan Hewan Kurban Iduladha 1447H
Sementara itu, perwakilan komunitas balon udara dari Wonosobo, Ahmad Agung Izulhaq menyebut, telah membawa 25 balon udara yang berasal dari berbagai kecamatan di Wonosobo. Namun, pada pelaksanaan di lapangan, hanya sekitar 20 balon yang diterbangkan.
"Lima balon kami siapkan sebagai cadangan, jika ada kendala atau kerusakan saat penerbangan," paparnya.
Balon-balon tersebut mengusung beragam tema, mulai dari nuansa nusantara, klasik, hingga seni modern. Dengan diameter rata-rata sekitar 16 meter, balon udara ini diterbangkan dengan ketinggian maksimal 30 meter dalam kondisi normal. Namun, faktor cuaca menjadi penentu utama.
"Kalau angin kurang stabil seperti sekarang, biasanya hanya bisa naik sekitar 10 meter. Lokasinya juga kurang luas," jelas Agung.
Baca Juga: Ditemukan Lima Stupa Candi, BPK Jateng Duga Desa Nepen Boyolali Bekas Permukiman Buddha Abad Ke-8
Dia mengaku, ada perubahan teknologi dalam proses penerbangan balon udara. Jika sebelumnya menggunakan metode tradisional, kini komunitas lebih memilih menggunakan gas elpiji karena dinilai lebih efisien.
"Dulu bisa sampai setengah jam untuk menerbangkan balon. Sekarang dengan (gas) elpiji, sekitar 10 menit sudah bisa terbang," terangnya.
Kebutuhan bahan bakar pun, menyesuaikan kondisi angin. Untuk penerbangan pagi hari, satu tabung gas umumnya cukup, sementara jika berlangsung lebih lama bisa membutuhkan hingga dua tabung.
Dari sisi produksi, balon udara ini bukan dibuat secara instan. Satu balon bisa memakan waktu hingga tiga bulan pengerjaan, menggunakan bahan utama kertas minyak.
Baca Juga: Tragedi Sekeluarga Tewas di Glamping Temanggung, Salah Satunya Fotografer Keraton sekaligus Mahasiswa UGM
"Sebagian kertas kami dapat dari Brazil, hasil tukar dengan peserta festival luar negeri," tambahnya.
Warga Kecamatan Dukun, Bayu Sapta mengaku sengaja datang kembali setelah tahun sebelumnya juga menghadiri acara serupa. Dia mengatakan, di Magelang sendiri belum ada kegiatan serupa dengan menerbangkan balon udara.
"Ini momentum langka, jadi sayang kalau dilewatkan. Wajar kalau warga sangat antusias meskipun harus berdesak-desakan," sebutnya. (aya/wia)