MUNGKID - Duta Besar (Dubes) Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone berkunjung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Kabupaten Magelang, Sabtu (6/6). Kunjungan tersebut menjadi upaya untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Prancis di bidang sains dan penelitian. Khususnya vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.
Fabien mengatakan, kehadirannya di Gunung Merapi untuk melihat langsung implementasi kerja sama tersebut di lapangan."Kami memiliki kerja sama yang sudah berlangsung lama dalam bidang vulkanologi," ujarnya usai kunjungan.
Di hadapan lanskap Gunung Merapi yang tampak jelas dari Pos Babadan, Fabien mengaku kagum terhadap salah satu gunung api paling aktif di dunia tersebut. Terlebih, kata dia, Merapi sangat terkenal di seluruh dunia.
Sementara itu, CEO Institut de Recherche pour le Développement (IRD) Valérie Verdier menegaskan, kerja sama dengan Indonesia. Khususnya dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), akan terus diperkuat.
Valérie menyebut, ketertarikan ilmuwan Prancis terhadap gunung api tidak lepas dari sejarah panjang vulkanologi di negara tersebut, serta keberadaan gunung api di wilayah Prancis. Indonesia, dengan jumlah gunung api aktif yang besar, menjadi laboratorium alam yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan global.
"Kami belajar banyak dari Indonesia, dan kolaborasi ini memberikan manfaat besar bagi kedua pihak dalam memahami dinamika gunung api," sambungnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati menyebut, kerja sama Indonesia-Prancis di bidang kebencanaan geologi telah berlangsung selama sekitar 50 tahun. Kunjungan Dubes Prancis ke Merapi menjadi bagian dari peringatan sekaligus penguatan kemitraan tersebut.
"Sejak lama kita bekerja sama dalam pengembangan ilmu gunung api dan kebencanaan geologi. Ini momentum penting untuk memperkuat kolaborasi yang sudah ada," bebernya.
Merapi dipilih sebagai lokasi kunjungan karena karakteristiknya yang aktif dan mudah diakses dibandingkan gunung api lain di Indonesia. Selain itu, Merapi juga memiliki sistem pemantauan yang lengkap serta data historis yang sangat kaya.
"Tantangannya adalah bagaimana mengolah data tersebut menjadi informasi yang cepat dan akurat untuk keselamatan masyarakat. Di sinilah kerja sama ini menjadi penting," jelasnya.
Terkait aktivitas Gunung Merapi Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso menjelaskan, berdasarkan data pemantauan terkini, tekanan magma masih terus mendorong aktivitas vulkanik Merapi.
"Dari data seismik dan deformasi, suplai magma masih berlangsung dan cukup tinggi. Ini menandakan aktivitas erupsi Merapi masih intensif," ujarnya.
Secara visual, kata dia, aktivitas tersebut dapat diamati saat cuaca cerah. Guguran lava terjadi hingga ratusan kali dalam sehari, sementara pada malam hari tampak pijaran lava dari puncak gunung.
"Kalau malam terlihat pijar, dan ini terjadi setiap hari. Artinya intensitas erupsi masih tinggi," tambahnya.
Dengan kondisi suplai magma yang masih kuat, erupsi Merapi diperkirakan akan terus berlangsung. Warga diminta untuk tetap waspada meskipun telah terbiasa dengan aktivitas gunung tersebut sejak erupsi berlangsung pada 2021.Saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo