Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Asal Kasih Minyak Malah Bikin Karatan, Jamasan Tosan Aji di Magelang Luruskan Salah Kaprah Perawatan Keris dan Tombak

Naila Nihayah • Jumat, 19 Juni 2026 | 19:29 WIB
Tradisi jamasan Tosan Aji diikuti oleh puluhan warga yang membawa sejumlah pusakanya di Rumah Dinas Bupati Magelang, Rabu (17/6).
Tradisi jamasan Tosan Aji diikuti oleh puluhan warga yang membawa sejumlah pusakanya di Rumah Dinas Bupati Magelang, Rabu (17/6).

 

 

 

 

 

Jamasan atau membersihkan benda-benda pusaka tak sembarangan. Meski rutin diberi minyak tak menjamin benda pusaka antikarat. Cara menjamas yang salah jadi salah satu faktornya. Bagaimana yang benar?

 

Memasuki bulan Sura, dalam kalender Jawa, sedikitnya 50 pusaka berupa keris dan tombak milik warga menjalani proses kurasi dan perawatan dalam tradisi jamasan. Pusaka-pusaka tersebut berasal dari berbagai periode sejarah, mulai dari era kerajaan hingga masa kemerdekaan.

Ketua Panitia Jamasan Tosan Aji 2026, Anto Atmadji menuturkan, kegiatan ini tidak hanya menitikberatkan pada ritual, tetapi juga edukasi dan konservasi benda warisan budaya.

Baca Juga: Menghadapi Hambatan Skripsi dengan Kekuatan Doa dan Mental yang Tangguh

"Fokus kami bukan hanya menjamas, tetapi menyelamatkan pusaka yang berisiko rusak karena salah perawatan," katanya di Rumah Dinas Bupati Magelang, Rabu (17/6).

Menurut dia, masih banyak pemilik pusaka yang belum memahami metode perawatan yang tepat. Kesalahan umum yang terjadi antara lain penggunaan bahan yang tidak sesuai hingga teknik penyimpanan yang justru mempercepat kerusakan.

Dalam kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menyerahkan pusaka untuk dirawat. Tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai prosedur pembersihan, perawatan berkala, hingga cara penyimpanan yang aman.

Baca Juga: Power Bank Meledak, Rumah Warga Tawangmangu Terbakar;  Satu Orang Terluka

 

Sebab, lanjut dia, perawatan pusaka tidak bisa sembarangan. Ada metode yang benar dan ada yang justru merusak. "Itu yang kami luruskan melalui kegiatan ini," lontarnya.

Selain aspek teknis, edukasi juga mencakup pemahaman nilai historis dan filosofi yang melekat pada setiap pusaka. Hal ini dinilai penting agar masyarakat tidak sekadar melihat Tosan Aji sebagai benda warisan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya.

Dalam pelaksanaannya, tidak semua pusaka langsung dijamas. Panitia terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap kondisi masing-masing benda. Hasil kurasi menentukan metode penanganan, apakah perlu dijamas secara menyeluruh, cukup diberi minyak, atau ditunda karena memerlukan penanganan khusus.

Baca Juga: 8 Weton Ini Berpeluang untuk Bisa Sukses dan Kaya Raya di Usia Muda Menurut Primbon Jawa, Apakah Weton Anda Termasuk

 

Anto menyebut, setiap pusaka memiliki kondisi berbeda. "Ada yang bisa langsung diproses, ada yang harus di-pending karena tingkat korosinya tinggi," kata Anto.

Seorang peserta, Rohmad Subadi mengaku, mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Dia membawa dua pusaka warisan keluarga untuk diperiksa dan dirawat. Namun, setelah dikurasi, hasilnya berbeda.

Baca Juga: Pedagang Daging Sapi di Magelang Kompak Libur Tiga Hari, Banyak Pembeli Kecele

"Yang satu bisa langsung dijamas, yang satu harus ditunda karena karatnya tinggi. Padahal saya rutin memberi minyak, tapi ternyata caranya kurang tepat," sebutnya.

Dia menilai, kegiatan ini penting karena memberikan pengetahuan praktis yang selama ini sulit diakses masyarakat umum.  "Saya jadi tahu cara merawat yang benar dan bagaimana memperlakukan pusaka dengan lebih baik," imbuhnya. (pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#benda pusaka #rumah dinas bupati magelang #keris dan tombak #Jamasan Tosan Aji #Magelang