MUNGKID - Hasil uji laboratorium terhadap sampel dalam kasus dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa SMPN 3 Candimulyo, sudah keluar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang menemukan adanya bakteri stafilokokus dari menu program makan bergizi gratis (MBG) beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang Lies Pramudiyati mengatakan, setelah terjadi dugaan keracunan yang mengakibatkan puluhan siswa harus dirawat, dinkes melakukan pemeriksaan beberapa sampel. Bakteri yang ditemukan dalam pemeriksaan tersebut bukanlah Escherichia coli atau E. coli.
“Bukan (E. coli). Hasilnya ada beberapa makanan yang mengandung positif stafilokokus,” katanya saat dihubungi, Rabu (19/8).
Baca Juga: Praktisi Hukum Sebut Kasus Kekerasan Remaja di Kebumen Tak Selesai dengan Sikap Reaktif
Lies menyebut, bakteri stafilokokus ditemukan pada sejumlah sampel yang diperiksa. Selain pada sampel muntahan, hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya bakteri tersebut pada makanan, yakni anggur dan tempe.
Dia menjelaskan, stafilokokus merupakan bakteri yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi. Gejala yang muncul dapat berupa demam dan keluhan kesehatan lainnya, tergantung kondisi serta respons tubuh.
Temuan tersebut, menurut dia, menjadi satu dasar bagi dinkes untuk melanjutkan penanganan dan penyelidikan epidemiologi terkait kasus dugaan keracunan yang dialami. Dinkes juga bakal menyerahkan hasil pemeriksaa tersebut kepada dokter yang menangani para siswa.
Baca Juga: Sambut HUT ke-81 RI, Remaja Kebumen Gelar Kethoprak 'Kembang Cangkok Wijaya Kusuma'
Hasil tersebut, lanjut Lies, akan menjadi bahan pertimbangan bagi tenaga medis untuk menentukan langkah penanganan berikutnya. Termasuk menilai apakah pengobatan yang telah diberikan kepada pasien sudah mencukupi atau masih diperlukan pemantauan lebih lanjut.
“Hasil ini akan kita kembalikan ke dokter yang merawat pasien untuk ditindaklanjuti apakah pengobatan yang kemarin sudah cukup atau dipantau perkembangannya seperti apa,” ujar Lies.
Dia menegaskan, dinkes tetap meminta perkembangan kondisi pasien dipantau oleh tenaga medis. Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan siswa setelah mendapatkan penanganan.
Baca Juga: Polsek Asologaima Ditembaki OTK, Polisi Temukan 10 Selongsong Peluru Kaliber 5,56 Mm
Di sisi lain, Lies menambahkan, dinkes memastikan penyelidikan epidemiologi atas kasus tersebut belum selesai. Penyelidikan juga menjadi dasar untuk menentukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Dia melanjutkan, evaluasi akan mencakup pembinaan dan pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan. Termasuk melakukan pembinaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah tersebut dinilai penting agar kasus yang terjadi di SMPN 3 Candimulyo dapat menjadi bahan pembelajaran bersama. Serta tidak terulang pada pelaksanaan program MBG berikutnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo