MAGELANG - Penanganan tuberkulosis (TBC) terus diperkuat dengan memperluas penemuan kasus hingga ke populasi berisiko dan lingkungan tempat tinggal pasien. Langkah itu dinilai penting karena Indonesia masih menghadapi beban TBC yang besar dan menjadi satu negara dengan kasus terbanyak di dunia.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benyamin Paulus Octavianus mengatakan, pemberantasan TBC merupakan satu program prioritas pemerintah. Saat ini, kata dia, Indonesia menempati posisi kedua dunia berdasarkan jumlah kasus TBC.
Dia menyebut, Indonesia berada di posisi pertama jika dihitung berdasarkan kasus per 100 ribu penduduk. "Presiden menugaskan kepada saya, tolong TBC itu dibereskan. Ini merupakan program prioritas negara," katanya di RSUD Tidar Kota Magelang, Selasa (15/9) malam.
Baca Juga: Kemdiktisaintek Luncurkan SatuBeasiswa, 71 Program Beasiswa Terhimpun dalam Satu Portal
Menurut dia, pengendalian TBC tidak cukup hanya mengandalkan pasien yang datang berobat ke fasilitas kesehatan. Penemuan kasus harus dilakukan secara aktif untuk menemukan penderita yang belum terdiagnosis sekaligus mencegah penularan lebih luas.
Hal itu menjadi perhatian khusus di Kota Magelang. Meski jumlah kasus TBC yang tercatat di wilayah tersebut relatif kecil, fasilitas kesehatan Kota Magelang melayani masyarakat dari luar daerah.
Kondisi tersebut, lanjut dia, membuat pengendalian penyakit membutuhkan strategi yang tidak hanya berorientasi pada wilayah administrasi. "Kasus TBC di Kota Magelang sedikit, tetapi orang yang berobat dari luar Kota Magelang juga datang ke sini," bebernya.
Baca Juga: Viral! Pedagang Asongan Diduga Lecehkan Pemotor Perempuan, Satpol PP Mataram Turun Tangan
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang Istikomah mengatakan, secara fasilitas, wilayahnya memiliki modal yang cukup untuk menjalankan program pencegahan dan pengobatan TBC. Dengan hanya tiga kecamatan dan 17 kelurahan, terdapat 31 unit layanan yang dapat memberikan pelayanan terkait penanggulangan TBC.
Namun, penguatan penemuan kasus masih menghadapi kendala. Satu di antaranya soal keterbatasan perangkat X-ray portable yang dibutuhkan untuk melakukan active case finding (ACF) atau penemuan kasus secara aktif di lapangan.
"Kota Magelang belum mempunyai X-ray portable untuk ACF di lapangan karena belum menjadi lokus yang mendapatkan bantuan. Selama ini kami harus pinjam ke sana kemari," bebernya.
Baca Juga: Fakta Baru OTT Terbesar dalam Sejarah: KPK Sita Rp 106,3 Miliar dari Kasus Suap HGB Summarecon
Tahun ini, lanjut Istikomah, dinkes mengintegrasikan penemuan TBC dengan program skrining kesehatan. Sebanyak 54 lokasi menjadi sasaran, dengan target sekitar 100 orang di setiap lokasi sehingga secara keseluruhan diharapkan dapat menjaring sekitar 5.800 orang.
Hingga pertengahan September, kegiatan telah dilakukan di 20 lokasi. Dari masyarakat yang telah menjalani skrining, ditemukan 66 orang yang masuk kategori terduga TBC dan membutuhkan pemeriksaan penunjang lebih lanjut.
Selain melalui skrining terintegrasi, penemuan kasus dilakukan dengan menyasar kelompok berisiko. Dinkes melakukan ACF di perusahaan, lembaga pemasyarakatan, pondok pesantren, pasar, hingga rumah susun.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta X Polda DIY, Puluhan Pengemudi Ojek Online Ikuti Edukasi Keselamatan Berkenda
Istikomah menyebut, skrining juga diarahkan kepada pasien program pengelolaan penyakit kronis, termasuk penderita diabetes melitus. Langkah tersebut dilakukan karena penanganan TBC membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dengan kondisi kesehatan lain yang dapat meningkatkan risiko penyakit.
Penelusuran juga dilakukan melalui investigasi kontak. Setiap kasus yang ditemukan tidak berhenti pada pengobatan pasien, tetapi dilanjutkan dengan mencari kemungkinan penularan kepada orang-orang yang memiliki kontak erat.
Dia menyebut, data dinkes menunjukkan capaian enrollment atau pasien yang masuk dalam pengobatan TBC hingga Agustus mencapai 93,7 persen dari target 95 persen. Sementara itu, angka keberhasilan pengobatan masih berada di kisaran 68 persen, dengan target tahun ini 90 persen.
Baca Juga: KAI Properti Perkuat Fungsi Stasiun Semarang Tawang, Jaga Karakter Bangunan Cagar Budaya
Istikomah menyebut, angka tersebut masih akan dievaluasi karena terdapat pasien yang belum memasuki waktu evaluasi akhir pengobatan. Selain itu, terdapat pula pasien yang putus berobat, meninggal, maupun mengalami kegagalan pengobatan.
Karena itu, kata dia, penguatan pendampingan menjadi salah satu pekerjaan yang terus didorong. Dinkes juga mengembangkan Posyandu Peduli TBC dan mulai menginisiasi Kelurahan Siaga TBC untuk memperluas peran masyarakat dalam pencegahan serta penanganan penyakit tersebut. (aya)