MAGELANG - Kota Magelang mulai membangun Monumen Paku Bumi di Simpang Bayeman. Monumen setinggi sekitar 15 meter itu dirancang menjadi landmark baru yang mengangkat filosofi Gunung Tidar sebagai Pakuning Tanah Jawa, sekaligus memperkuat identitas Kota Magelang.
Pembangunan monumen itu diprakarsai pengusaha lokal Slamet Santoso, pemilik HK Gold Magelang. Proyek tersebut ditargetkan rampung sebelum akhir tahun sehingga dapat menjadi satu ikon baru kota pada pergantian tahun.
Slamet mengatakan, gagasan membangun monumen itu telah muncul dalam keluarganya sejak lebih dari 10 tahun lalu. Keinginan itu, kata dia, baru terealisasi setelah mendapat respons positif dari pemkot.
Baca Juga: Siswa SMA Negeri 1 Sentolo Yang Bongkar Kasus Asusila Malah Disuruh Minta Maaf
Gagasan tersebut berangkat dari keterkaitan kuat Magelang dengan Gunung Tidar. Selama ini Gunung Tidar dikenal dengan sebutan Pakuning Tanah Jawa. Dari filosofi tersebut, dia memaknai Kota Magelang sebagai sebuah 'pusaka' yang harus dijaga bersama.
"Oleh sebab itu, orang yang berada di Kota Magelang harus menjaga Kota Magelang sebagaimana kita menjaga pusaka," kata Slamet usai peletakan batu pertama, Kamis (17/9).
Filosofi itu, lanjut Slamet, bukan hanya diwujudkan melalui pembangunan sebuah tugu. Monumen itu diharapkan menjadi pengingat agar masyarakat maupun orang yang datang ke Magelang ikut menjaga lingkungan, keindahan, ketertiban, serta membawa perilaku yang baik.
Baca Juga: Bakal Jadi Negara Kedua di Dunia, Indonesia Matangkan Rencana Pengoperasian PLTN Apung
Saat disinggung soal total biaya yang dikeluarkan, Slamet enggan menyebutnya. "Masalah besaran biaya itu tergantung daripada rasa syukur daripada keluarga kami terhadap Kota Magelang," bebernya.
Slamet juga membuka kemungkinan adanya unsur material bernilai khusus pada monumen tersebut, termasuk emas. Namun, ketika ditanya lebih jauh mengenai detail itu, dia memilih merahasiakannya.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menyebut, monumen itu dibangun di simpang Bayeman karena berada dekat dengan Gunung Tidar. Sekaligus merupakan satu titik persimpangan dengan ruang lalu lintas yang besar.
Baca Juga: Tas Penumpang Keluarkan Asap di Stasiun Rawa Buntu, Petugas KRL Gerak Cepat Evakuasi
Area yang terdampak penataan mencapai sekitar 300 meter. Monumen tersebut dirancang memiliki tinggi sekitar 15 meter. Akses jalan pun akan diperlebar sekitar 9 meter dan ditambah jalu sepeda. Sementara detail bentuk, material, dan ornamen akan mengacu pada rancangan teknis yang telah disiapkan."Harapan saya tahun baru sudah ada ikon baru di Kota Magelang," paparnya.
Konsultan dan Perencana CV Cahaya Pilar Utama, Faris Agro menjelaskan, struktur utama monumen akan menggunakan rangka baja. Bagian luarnya menggunakan material tembaga yang akan dipahat oleh perajin asal Boyolali.
Monumen, lanjut dia, memiliki diameter sekitar 9,5 meter. Karena dibangun di lokasi dengan kontur tanah yang relatif miring dan berada di tengah kawasan lalu lintas, konstruksinya juga diperhitungkan terhadap kondisi tanah, terpaan angin, serta getaran kendaraan. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo