MAGELANG - Mekarnya bunga tabebuya di sejumlah ruas jalan menghadirkan pemandangan warna-warni yang mempercantik wajah kota. Ribuan pohon itu menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus menambah nilai estetika ruang publik.
Namun, di balik keindahannya, pemerintah daerah menghadapi pekerjaan rumah untuk menjaga keberlangsungan pohon tersebut. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang mencatat terdapat 2.865 pohon tabebuya yang tumbuh di wilayah kota.
Kepala Bidang Pengelolaan Pertamanan dan Pemakaman DLH Kota Magelang Teguh Ariyanto menjelaskan, tabebuya mulai ditanam di Kota Magelang sekitar 2010.
Baca Juga: Haul ke-115 Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Jalan di Solo Ditutup setelah Jumatan hingga Minggu
Pengembangan tanaman itu berkaitan dengan upaya pemerintah kota membangun citra Magelang sebagai kota yang sejuk dan berbunga.
Tanaman yang berasal dari kawasan tropis Amerika Latin, termasuk Brasil itu dinilai dapat tumbuh dengan baik di iklim Kota Magelang yang relatif sejuk. Kondisi tersebut turut mendukung mekarnya bunga secara serentak pada periode tertentu.
Ari menjelaskan, terdapat dua jenis tabebuya yang ditanam di Kota Magelang, yakni tabebuya berdaun kecil dan berdaun besar. Tabebuya berdaun kecil umumnya berbunga kuning dan dapat berbunga lebih sering.
Baca Juga: Geger Ular Piton Bergelayut di Atap Kelas SMPN 4 Gresik Saat Jam Pelajaran
Sementara tabebuya berdaun besar memiliki bunga berwarna merah muda dan putih. Jenis ini umumnya berbunga ketika terjadi peralihan musim, terutama dari kemarau menuju musim hujan. "Bagi kami, kondisi tersebut cukup membantu karena intensitas penyiraman tanaman taman mulai bisa dikurangi," terangnya, Rabu (30/9).
Meski menjadi daya tarik kota, lanjut Ari, pengelolaan ribuan pohon itu bukan tanpa persoalan. Sejumlah pohon harus dipangkas karena mati, sementara sebagian lainnya perlu disesuaikan dengan pekerjaan pembangunan infrastruktur.
Ari mencontohkan, saat perbaikan trotoar di Jalan Pahlawan, beberapa pohon tabebuya harus dihilangkan. Selain itu, ada pula pohon yang dipotong karena kondisinya sudah mati.
Baca Juga: Jelajah 5 Pantai di Kebumen dalam Sehari, Ini Daftar dan Lokasinya!
Di tengah kondisi itu, DLH juga berupaya memperbanyak tabebuya secara mandiri. Satu caranya dengan memanfaatkan biji yang dihasilkan setelah pohon berbunga. Buah tabebuya yang mengering akan pecah dan mengeluarkan biji bersayap.
Biji yang jatuh ke tanah berpotensi tumbuh menjadi tanaman baru. Proses tersebut dimanfaatkan DLH untuk pembibitan di kebun bibit.
Upaya menjaga keberlangsungan tabebuya juga berhadapan dengan persoalan pemangkasan di sekitar jaringan listrik.
Baca Juga: Ribuan Manajer Kopdes Mundur, Tere Liye Soroti Potensi Pemborosan Uang Negara
Sejumlah pohon yang tumbuh di bawah jaringan tegangan menengah (JTM) maupun jaringan tegangan tinggi harus dipangkas secara berkala demi menjaga jarak aman dari kabel listrik.
Dia menyebut, persoalan lain muncul ketika bunga tabebuya berguguran. DLH telah menempatkan petugas kebersihan di sejumlah ruas jalan, khususnya jalan protokol. Mereka bekerja dalam dua sif, yakni pagi hingga siang dan siang hingga sore. "Kalau bunga berguguran, tentu menambah pekerjaan petugas," bebernya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo