MUNGKID - Kabupaten Magelang menghadapi potensi bahaya gempa bumi dari sejumlah sumber, baik sesar aktif di daratan maupun zona subduksi di selatan Pulau Jawa.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, Sesar Merapi-Merbabu memiliki potensi magnitudo maksimum 6,5, sedangkan Sesar Opak mencapai magnitudo 6,9.
Karena itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG).
Baca Juga: Produsen dan Konsumen Sama-Sama Teriak, Menteri Amran Siapkan Pemeriksaan Harga Ayam dan Telur
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu menilai, masyarakat yang tinggal di wilayah dataran tinggi seperti Magelang terkadang menganggap ancaman gempa relatif jauh. Karena tidak berada di kawasan pesisir atau tidak merasakan keberadaan sumber gempa secara langsung.
Padahal, kata dia, sumber gempa tidak hanya berada di laut, tetapi juga di daratan. Gempa yang bersumber dari daratan dapat menimbulkan kerusakan signifikan. Terutama jika kekuatannya besar, kedalamannya dangkal, dan bangunan yang terdampak tidak memenuhi ketentuan konstruksi tahan gempa.
"Kalau di darat, sumbernya ada di bawah kita. Kemungkinan kerusakan bangunan kita jauh lebih besar, apalagi dengan kekuatan yang besar dan kedalaman yang dangkal," lontarnya di Aula Balai Desa Tampingan, Tegalrejo, Kamis (15/10).
Ayu menjelaskan, berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat tiga sumber gempa yang perlu menjadi perhatian di wilayah Magelang. Yakni Sesar Merapi-Merbabu, Sesar Opak, dan zona subduksi di selatan Jawa.
Baca Juga: Seorang Balita Tewas Setelah Terjatuh dari Lantai Lima Hotel Mesra di Samarinda
Sesar Merapi-Merbabu, lanjut dia, memiliki potensi magnitudo maksimum 6,5, sedangkan Sesar Opak berpotensi mencapai magnitudo 6,9. Meskipun Kabupaten Magelang tidak berada tepat di atas kedua sesar tersebut, guncangan dari gempa yang bersumber di sana tetap berpotensi dirasakan hingga wilayah Magelang.
Dia mengatakan, selain sumber gempa di daratan, zona subduksi di selatan Pulau Jawa juga perlu diwaspadai karena dapat memicu gempa bermagnitudo besar. Apabila gempa terjadi di laut dengan karakteristik tertentu, kejadian itu juga berpotensi menimbulkan tsunami. "Yang harus dilakukan adalah persiapan dan penguatan mitigasi," katanya.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Banjarnegara Hery Susanto Wibowo mengatakan, SLG merupakan bagian dari komitmen BMKG untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman gempa melalui edukasi, pelatihan, serta penguatan koordinasi lintas sektor.
Baca Juga: KPK Ungkap Dua Klaster Korupsi Dana Bencana BNPB, Konflik Kepentingan dan Suap
"Koordinasi yang baik diperlukan agar informasi, komunikasi, dan tindakan penyelamatan dapat berjalan efektif ketika situasi darurat terjadi," bebernya.
Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang David Rudiyanto mengatakan, potensi bahaya gempa bumi itu perlu disikapi melalui peningkatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan. Dia menilai, penyelenggaraan SLG menjadi satu upaya untuk membangun pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan terhadap potensi bencana.
"Tujuan kita bukan untuk menimbulkan rasa takut, melainkan membangun pengetahuan, kewaspadaan, dan kemampuan bertindak secara cepat dan tepat ketika terjadi gempa bumi," terangnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo