"Vaksin Covid-19 membahayakan, itu tidak tepat. Sebab, dalam pembuatan vaksin telah melalui serangkaian penelitian panjang baik untuk melihat kemampuan membentuk antibodi, efek samping, hingga efikasi," ungkapnya kemarin (28/3).Informasi tidak benar (hoax) terkait pelaksanaan program vaksinasi nasional untuk mencegah penyebaran virus korona (Covid-19) terdampak di Kabupaten Purwoejo.
Sejauh ada ada sejumlah informasi tidak benar yang beredar. Di antaranya menyebutkan vaksin Moderna dirancang untuk mengubah DNA manusia. Selain itu, vaksin Covid-19 memiliki chip untuk melacak orang.
”Itu juga tidak benar. Tidak bisa chip dimasukan melalui injeksi,” jelas Deshita.
Deshinta juga menampik vaksin Covid-19 telah bermutasi menjadi ribuan Covid-19 baru di seluruh dunia. Dia menjelaskan, hal itu tidaklah benar.
Sebab, ungkapnya, virus Covid-19 yang ada di dalam vaksin telah dimatikan sehingga tidak akan menimbulkan mutasi. ”Tidak mematuhi prokes setelah divaksin Covid-19, itu juga salah, karena antibodi tidak langsung terbentuk setelah vaksin. Selain itu, efikasi masing-masing vaksin beda. Tidak ada yang seratus persen sehingga masih ada peluang terinfeksi,” terangnya.
Sementara itu, pakar pulmonologi UGM Jogjakarta Ika Trisnawati memberikan penegasan terkait adanya informamsi bahwa pasien Covid-19 tidak dapat lagi terinfeksi kembali karena sudah memiliki kekebalan. Menurutnya, hal ini tidak benar.
"Meskipun sudah ada kekebalan, kekebalan akan turun setelah dua sampai tiga bulan. Dan, saat terjadi penurunan, bisa berisiko terinfeksi lagi," ujar dia.
Ika juga menyatakan informasi bahwa minum mecobalamin dapat mengobati anomsia sebagai gejala Covid-19 adalah tidak benar. Sebab, pengobatan untuk anosmia tidak menggunakan jenis obat-obatan tersebut.
Terkait mutasi virus Covid-19 yang dikabarkan sangat mematikan, Ika mengatakan, informasi tersebut tidaklah tepat. Dari sejumlah penelitian diketahui mutasi virus Covid-19 memang terbukti memiliki daya infeksi yang lebih besar. "Namun, belum terdapat bukti ilmiah yang menyebutkan mutasi Covid-19 menjadi sangat mematikan," tandasnya.
Sebelumnya, adanya informasi yang menyebutkan vaksin Covid-19 berbahaya membuat sebagian masyarakat takut untuk melakukan vaksinasi Covid-19. Beberapa masyarakat mengaku enggan untuk divaksin.
Adanya sejumlah masyarakat yang takut divaksin ini, bahkan, sampai ke Bupati Purworejo Agus Bastian. "Saya masih mendengarkan, masih ada masyarakat yang takut dan enggan untuk vaksinasi Covid-19 ini. Vaksin ini aman karena sudah melewati tahap penelitian yang sedemikian rupa dan telah memperoleh presikat halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia)," tegasnya beberapa waktu lalu. (han/amd) Editor : Administrator