Pawai ogoh-ogoh ini menjadi satu momentum yang dinanti-nantikan oleh masyarakat sekitar. Seakan menjadi penghilang dahaga setelah tiga tahun sempat mandek. Hal itu terlihat dari antusiasme ribuan masyarakat yang rela berdesak-desakan demi bisa melihat dan mengabadikan momen tersebut.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Magelang I Gede Suarti menjelaskan, Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu adalah simbol untuk menjaga keseimbangan pelestarian alam semesta bhuana agung dan bhuana alit. Adapun rangkaiannya diawali dengan pengambilan air suci atau melasti di Tuk Mas, Kecamatan Grabag pada Minggu (19/3) lalu.
Suarti menuturkan, setelah dari Tuk Mas, air suci tersebut dibawa ke Pura Wira Bhuana Magelang. Sesampainya di pura, ada upacara Mendak Tirta atau menyambut air. Kemudian, air dalam beberapa jeriken dan galon tersebut diletakkan di padmasari sekitar satu jam untuk selanjutnya digunakan persembahyangan.
Kemudian, digelar pawai ogoh-ogoh dan upacara Tawur Agung Kesanga atau Mecaru di halaman depan Pura Wira Bhuana, kemarin (21/3). Tujuannya untuk menjaga, melestarikan, dan menyucikan bhuana agung dan bhuana alit.
"Kegiatan (pawai) ini tujuannya untuk menetralisir keburukan dari alam semesta. Membersihkan alam yang tidak bagus menjadi bagus," paparnya usai pawai.
Sementara itu, sesepuh umat Hindu di Magelang I Made Pipil menyebut, pada dasarnya pawai ogoh-ogoh menjadi bagian dari rangkaian pelaksanaan Mecaru. Yang bertujuan untuk menetralisir sifat-sifat buruk manusia. Sifat-sifat itu lantas diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh.
Ada dua ogoh-ogoh yang diarak. Yakni berwujud butakala dan hanoman. Buta artinya kegelapan dan kala adalah waktu. Menurutnya, setiap orang yang dipengaruhi oleh waktu dan ruang, dia akan sering lupa pada dirinya, sehingga akan marah, dan sebagainya. "Sifat-sifat itulah kemudian dipersepsikan sebagai butakala," terangnya.
Lantas, umat Hindu akan melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga yang merupakan upacara untuk menetralisir sifat-sifat buruk manusia dan kekuatan alam besar atau makrokosmos. "Dengan keseimbangan inilah, kita akan dituntun menuju suatu keheningan, menuju sepi," imbuhnya.
Usai upacara Mecaru, dilanjutkan dengan persembahyangan bersama Hari Raya Nyepi untuk memohon kepada Sang Hyang Widhi agar mendapat berkah keselamatan dalam pelaksanaan catur brata penyepian.
Dia menyebut, catur brata penyepian terdiri atas empat hal. Diantaranya amati geni atau tidak menyalakan api. Tidak hanya api saja, termasuk juga api yang ada dalam diri manusia, yakni amarah. Dengan kata lain, setiap umat diminta untuk mengendalikan api hawa nafsu.
Kemudian, amati lelungan atau tidak bepergian, amati lelanguan atau tidak bersenang-senang, dan amati karya atau tidak bekerja. "Kalau tidak bekerja, kita akan bisa melihat dengan jelas diri kita sendiri dan introspeksi diri. Agar kita bisa memasuki kesucian, makanya dibuat sepi," ujar I Made Pipil.
Seorang warga Dusun Seneng Chatarina mengaku senang dengan adanya pawai ogoh-ogoh setelah ditiadakan selama tiga tahun. Terlebih, menjadi momentum yang dinanti-nantikan oleh masyarakat sekitar. "Semoga toleransi umat beragama semakin erat dan semakin baik," ucapnya. (aya/bah) Editor : Administrator