Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Sultan Hameng Buwono V Naik Takhta saat Balita, Hidupnya Berakhir di Tangan Selir Kesayangan

Administrator • Rabu, 1 November 2023 | 04:00 WIB
MUDA: Sri Sultan Hamengkubuwono V (kratonjogja.id, Tangkap layar YouTube Ada Info)
MUDA: Sri Sultan Hamengkubuwono V (kratonjogja.id, Tangkap layar YouTube Ada Info)

RADAR PURWOREJO - Sultan Hamengku Buwono V menjadi raja Keraton Jogjakarta saat masih kecil. Nama aslinya yakni Gusti Raden Mas (GRM) Gatot Menol.









Diketahui, Sultan Hamengku Buwono V ini merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencono.









Lahir pada 20 Januari 1821, Sultan Hamengku Buwono V naik takhta ketika usianya baru menginjak tiga tahun.





Baca Juga: Isi Piagam Kedudukan dari Presiden Soekarno kepada Sultan HB IX dan Paku Alam VIII





Mengingat usianya kala itu yang masih balita, beliau dibantu oleh sejumlah sosok untuk menjalankan roda pemerintahan Keraton Jogja.









Gatot Menol baru benar-benar mengendalikan pemerintahan Keraton Jogja secara penuh pada tahun 1836. Yakni, ketika usianya sudah 16 tahun.









Sebelumnya, kekuasaan Hamengkubuwono V ini sempat diambil alih oleh kakeknya yaitu Sri Sultan Hamengku Bowono II dari tahun 1826 hingga 1828.









“Masa kepemimpinannya sempat digantikan sementara oleh kakek buyutnya, Sri Sultan Hamengkubuwono II pada tahun 1826-1828,” tulis kratonjogja.id dikutip Radar Jogja dari Hops.ID.





Baca Juga: Terinspirasi Sunan Kalijaga, Selokan Mataram Diusulkan Sultan HB IX untuk Hindarkan Rakyat Ikut Romusha





Dalam catatan sejarah, dalam kepemimpinan Hamengku Buwono V ini terjadi Perang Jawa. Perang yang dipimpin oleh Pangeran Dipenogoro.









Perang Jawa bisa disebut sebagai peperangan terbesar yang pernah dialami oleh penjajah Kolonial Belanda pada saat itu.









Di sisi lain, kehidupan pribadi Sultan Hamengku Buwono V ternyata mengalami banyak drama.









Ketika memerintah, Gatot Menol ini dinilai lembek dan terlihat terlalu patuh pada Kolonial Belanda.





Baca Juga: Isi Lengkap Amanat 5 September 1945 yang Dinyatakan Sultan HB IX dan Paku Alam VIII





Karena hal tersebut, Hamengku Buwono V pun semakin terdesak karena banyak masyarakat yang tidak puas atas pemerintahannya.









Bahkan, dari internal kesultanan pun Sultan Hamengku Buwono V juga mengalami hal yang sama.









Salah satu sosok yang turut ikut serta dalam konflik internal tersebut adalah selir kesayangan yakni Kanjeng Mas Hemawati.









Pembunuhan terhadap Gatot Menol itu terjadi pada tanggal 5 Juni 1855 dan Kanjeng Mas Hemawati pelaku di baliknya.





Baca Juga: Sultan HB IX Beri Ucapan Selamat Proklamasi, Bersama Paku Alam VIII Nyatakan Gabung Republik





“Hingga akhirnya, pada 5 Juni 1855 terjadilah aksi pembunuhan yang tadinya mengubah trah kepeminpinan Kesultanan Yogyakarta itu,” ujar kanal YouTube Ada Info.









Kanjeng Mas Hemawati ini disebut-sebut sebagai selir kesayangan dan sekaligus menjadi istri Sultan Hamengku Buwono V.









"Sultan Hamengku Buwono V ditikam dari belakang oleh sang selir hingga tewas,” katanya melanjutkan.









Namun, sejak tragedi tersebut tidak diketahui secara pasti bagaimana keberadaan dari Kanjeng Mas Hemawati tersebut.(amd)



Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Administrator
#Gusti Raden Mas (GRM) Gatot Menol #Sultan Hamengku Buwono V #raja Keraton Jogjakarta #Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencono