Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kota Magelang Bisa Kembangkan Urban Farming Karena Minim Lahan Pertanian

Naila Nihayah • Selasa, 12 Desember 2023 | 22:41 WIB
BERI APRESIASI: BPS Kota Magelang mengapresiasi unit kerja, instansi, dan masyarakat Kota Magelang yang ambil bagian dalam menyukseskan pelaksanaan ST2023. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
BERI APRESIASI: BPS Kota Magelang mengapresiasi unit kerja, instansi, dan masyarakat Kota Magelang yang ambil bagian dalam menyukseskan pelaksanaan ST2023. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

MAGELANG - Warga Kota Magelang dapat mengembangkan pertanian perkotaan di wilayah yang relatif kecil (urban farming). Padahal, jika memanfaatkan lahan atau pekarangan rumah yang terbatas, potensinya cukup tinggi. Namun, usaha pertanian perkotaan perorangan (UTP) di Magelang masih sedikit.


Direktur Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Magelang Aluisius Abrianta menjelaskan, UTP Urban Farming adalah UTP di perkotaan yang pertaniannya diusahakan pada lahan yang terbatas.
Kebanyakan bahan tanaman tidak berada di atas tanah. Melainkan menggunakan hidroponik, hidroponik, sistem vertikal dan lain-lain.


Dengan kata lain, pertanian perkotaan erat kaitannya dengan teknologi dan manajemen umur. Di Kota Magelang, potensi pengembangan pertanian perkotaan dinilai sangat tinggi.


"Dari catatan, kita (Kota Magelang) masih sedikit yang melakukan urban farming," ujarnya, Selasa (12/12/2023).


Aluisius menyebut, sebetulnya ada sekitar 50 persen petani yang sudah menguasai teknologi pertanian. Namun, untuk mengoptimalkan lahan yang dimiliki, belum seluruhnya dilakukan warga.
Padahal, potensinya cukup besar. Mengingat lahan di Kota Magelang sangat terbatas. Lebih-lebih, lahan pertanian di Kota Magelang justru semakin berkurang.


Digantikan dengan gedung ataupun perumahan. Tapi, Aluisius belum menyebut secara pasti luasan lahan pertanian di wilayahnya.


"Fokus kami adalah pengusaha yang mengusahakan pertanian di daerah lain. Petaninya ada di Kota Magelang, tapi lahan pertaniannya bisa di kabupaten atau daerah lain," terangnya.
Berdasarkan sebaran UTP di Kota Magelang, ada 33 unit UTP urban farming.


Terbanyak ada di Kecamatan Magelang Tengah, yakni 27 unit atau mencakup 81,85 persen dari total urban farming di Kota Magelang. Sedangkan UTP urban farming paling sedikit ada di Kecamatan Magelang Tengah, yakni satu unit atau 3,03 persen. Padahal, lanjut dia, jumlah UTP 2023 di Kota Magelang sebanyak 2.418 unit. Naik 90,39 persen dibanding tahun 2013yang berjumlah 1.270 unit.


Selain itu, jumlah usaha pertanian hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Yakni ada sebanyak 2.488 unit atau naik 94,98 persen dibanding 2013 yang sebanyak 1.276 unit.


Kemudian, jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum (UPB) 2023 sebanyak 2 unit. Atau naik 100 persen dibanding 2013 yang hanya berjumlah 1 unit. Lalu, jumlah usaha pertanian lainnya (UTL) 2023 sebanyak 68 unit. Naik 1.260 persen dari tahun 2013 yang hanya 5 unit. UTP mendominasi usaha pertanian di semua subsektor dan terbanyak terdapat di subsektor peternakan, yakni mencapai 1.567 unit usaha.


Sedangkan komoditas yang paling banyak diusahakan adalah ayam kampung biasa yang mencapai 22,86 persen. Disusul oleh unggas nonpangan sebesar 19,35 persen. UPB terdapat di subsektor hortikultura, perkebunan, dan kehutanan. Dengan masing-masing berjumlah 1 unit usaha. Selanjutnya, UTL terbanyak terdapat di subsektor hortikultura, yakni mencapai 31 unit usaha.


"Kalau dari sisi jumlah secara absolut, kita memang paling rendah nomor 2 di Jateng, setelah Surakarta. Tapi, dari sisi pertumbuhan, kita paling tinggi di Jateng," jelasnya.


Sekretaris Daerah Kota Magelang Hamzah Kholifi mengutarakan, sensus pertanian ini berperan penting untuk merumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran. Khususnya berkaitan dengan upaya meningkatkan ketahanan pangan.


Jika dilihat dari hasil ST2023 tahap I, terdapat temuan yang menggembirakan. Mulai dari kenaikan jumlah RUTP, perusahaan pertanian berbadan hukum, dan usaha pertanian lainnya.

"Meningkatnya usaha pertanian diharapkan berkontribusi positif pada perekonomian Indonesia," paparnya.

Melihat catatan BPS pada 2022, lanjut dia, kontribusi sektor pertanian mencapai 12,4 persen terhadap produk domestik bruti (PDB) berdasarkan harga berlaku (ADHB).


Selain berkontribusi pada PDB, sektor pertanian juga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Yakni sejumlah 27 persen.


Di Kota Magelang, lahan pertanian memang terbilang terbatas. Kendati begitu, bukan berarti sektor pertanian tidak berpotensial untuk berkontribusi lebih terhadap perekonomian daerah.
Tanaman anggrek, buah-buahan, dan produk peternakan seperti telur, daging, serta susu sapi merupakan komoditas pertanian unggulan Kota Magelang yang bisa ditingkatkan.


Hamzah berharap, ST2023 dapat digunakan sebaik-baiknya sebagai pijakan dalam memetakan potensi. Serta menganalisis masalah dan menemukan solusi terbaik bagi pengembangan sektor pertanian. (aya/mel)

Editor : Aryanda Ahmad
#Lahan pertanian #urban farming #Magelang