RADAR PURWOREJO - Saat melintas di Kota M atau Muntilan tak ada salahnya mencicipi salah satu makanan khasnya. Yaitu bubur blendrang.Berbeda dengan bubur pada umumnya, blendrang memiliki cita rasa yang khas. Dimasak dengan kaldu dari tulang ayam maupun kambing.
Bubur yang satu ini memang khas Muntilan. Tepatnya di Desa Gunungpring. Banyak pula penjual yang menjajakannya. Salah satunya pasangan suami istri bernama Romadlon, 50, dan Sriningsih, 35.
Romadlon mengaku, istrinya telah berjualan blendrang selama 21 tahun. Ia bersama istri membuka gerai kecil di rumahnya. Tepatnya di Dusun Bintaro, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Letaknya memang di tengah perkampungan.
Menurutnya, bubur blendrang miliknya merupakan resep turun temurun dari sang nenek. Istrinya merupakan generasi ketiga. "Neneknya yang pertama kali buat blendrang. Istri saya sering bantu, jadinya tahu cara pembuatannya," katanya di sela-sela melayani pembeli.
Menurut Romadlon, bubur ini dulunya disajikan sebagai makanan pembuka puasa saat bulan Ramadan. Bahannya pun bukan menggunakan tulang ayam dan kambing, melainkan hanya tempe dan tahu.
Masyarakat setempat yakin jika bubur blendrang erat kaitannya dengan kisah Pangeran Diponegoro. Kala itu, bubur blendrang dijadikan makanan penghangat tubuh ketika pasukan Dipenogoro melaksanakan buka puasa.
"Hal tersebut berdasarkan cerita yang dirunut dari pondok Pesantren Watu Congol yang sudah sangat tua di Gunung Pring, Muntilan," jelas Romadlon.
Seiring berkembangnya zaman, tahu dan tempe dianggap kurang menarik untuk dijadikan olahan. Sehingga, muncullah ide untuk menggantinya dengan tulang kambing. Masyarakat pun bisa menerimanya. Lambat laun, tulang kambing harganya mulai naik.
"Ada makanan tengkleng itu. Yang punya warung berani bayar tinggi. Sedangkan kami tidak berani bayar lebih tinggi. Akhinya, kami memutuskan mengurangi pakai tulang kambing," tuturnya.
Lalu, ia mengkreasikannya dengan tulang ayam. Di samping harganya lebih terjangkau, tulang ayam pun mudah dicari.
Blendrang ini memiliki kuah yang kental. Romadlon pun mampu mengira-ngira takaran yang pas agar teksturnya tidak terlalu kental dan tidak terlalu cair.
Selain itu, bubur ini dipadukan dengan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kencur, jahe, penyedam rasa, dan gandum. Bumbu tersebutlah yang membuat blendrang khas Muntilan ini memiliki cita rasa gurih bercampur dengan pedas.
Sebelum pandemi, ia bisa menghabiskan hingga 10 kilo bubur blendrang. Sekarang, dalam sehari, ia bisa membuat bubur blendrang tulang kambing sebanyak 1 - 2,5 kilo. Untuk tulang ayam, ia bisa membuat 6 - 7 kilo. "Alhamdulillah selalu habis," pungkasnya.
Pembelinya pun tak hanya masyarakat sekitar Gunungpring, melainkan luar daerah. Seperti Jogja dan sekitarnya. Tak heran jika blendrang buatannya selalu ludes dalam hitungan jam.
Baca Juga: Harga Gabah Tinggi, Petani di Bantul Masih Tunggu Masa Panen
Romadlon menurutkan, meskipun warungnya di tengah perkampungan, namun pembeli sudah mengetahui lokasinya. Sehingga ia tidak perlu membuka warung di pinggir jalan. "Memang kalau di pinggir jalan strategis, tapi orang-orang sudah tahu, jadinya tidak perlu buat warung lagi," pungkasnya.
Jadi, ia lebih memilih berjualan di rumahnya sembari membuka toko kelontong.
Harganya pun terjangkau. Mulai dari Rp 2 ribu - Rp 6 ribu. Tergantung porsinya. "Kadang ada anak kecil yang beli Rp 2 ribu, ya kami kasih," jelas Romadlon.
Editor : Heru Pratomo