Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kasus DBD Pada Anak kembali Tinggi, Disebut karena Perubahan Iklim yang Tidak Menentu, Apa Hubungannya?

Luthfasari Ardani • Kamis, 25 April 2024 | 23:00 WIB
Mural nyamuk yang tergambar di tembok. Jogjakarta menjadi salah satu kawasan tempat di uji cobakannya nyamuk ber wolbachia. Hasilnya, terjadi penurunan signifikan terhadap penderita DBD.
Mural nyamuk yang tergambar di tembok. Jogjakarta menjadi salah satu kawasan tempat di uji cobakannya nyamuk ber wolbachia. Hasilnya, terjadi penurunan signifikan terhadap penderita DBD.

 

RADAR PURWOREJO – Perubahan terhadap iklim cuaca yang tidak menentu ternyata dapat menimbulkan munculnya nyamuk demam berdarah atau biasa sering di sebut DBD.

Penyakit ini dapat memberikan efek samping kepada siapa saja, entah itu orang tua, dewasa, maupun remaja, akan tetapi kasus ini lebih banyak menyerang pada anak - anak.

Pada tahun 2023, gejala terhadap penyakit ini pernah menurun drastis yang di karenakan pada tahun itu cuaca yang sangat mendukung hingga penyakit ini sempat berkurang.

Berbeda dengan 2024 ini gejala penyakit ini ternyata kembali bangkit karena cuaca yang tidak mendukung, penyakit ini lebih sering memicu terhadap anak - anak hingga mengakibatkan tubuh tersebut menjadi kritis atau tidak dapat di tangani oleh tim medis karena nyamuk DBD yang selalu menggigit pada tubuh tersebut, menurut dari kementrian kesehatan dengan adanya meningkatnya penyakit ini di sebabkan perubahan iklim yang berubah - ubah di tahun ini.

 

Namun di 2023 pihak dari kesehatan adan kemenkes berhasil menurunkan gejala terhadap penyakit ini dari 143 ribu menjadi 115 ribu gejala penyakit ini, oleh karena itu pihak dari kemenkes meminta diagnosis dengue yang mana hal ini merupakan sangat perlu di tingkatkan agar dapat lebih mengetahui penyakit mana yang termasuk Zoonosis yang telah di sebabkan oleh adanya faktor lingkungan.


Imran Pambudi dari kementrian kesehatan menegaskan bahwa "Untuk saat ini kami sangat membutuhkan deteksi seperti rapit test, yang mana hal ini perlu di terapkan dalam fasilitas kesehatan. Tak hanya itu saja, penyakit DBD ini ternyata sifatnya tidak main - main karena mempunyai sifat dengaue dan zoonosis yang mana akan memberikan efek samping sangat parah jika tim kesehatan telat menangani kasus tersebut," ujarnya

 


Dirinya juga mengatakan setelah usainya penyakit covid - 19 yang mempunyai dampak dengue justru tidak menunjukkan gejala ini menunjukkan kinerjanya seperti sebelumnya, untuk itu kami tim kesehatan sangat amat memerlukan sistem yang mampu bekerja mendeteksi apakah penyakit tersebut di sebabkan oleh adanya binatang, terpengaruhnya lingkungan, atau perubahan terhadap iklim cuaca.


Dirinya juga menambahkan penjelasan terkait adanya gejala ini "Perubahan iklim cuaca tak hanya membebani terhadap pelayanan kesehatan, karena hal ini membuat kasus semakin naik pesat, akan tetapi dari pihak kami juga mempertimbangkan bahwa perubahan iklim lebih membebani sistem kesehatan," tuturnya.

Baca Juga: Lima Rahasia Tersembunyi Daun Pisang, Salah Satunya Turunkan Risiko Terkena Kanker Serviks


Jika di pedesaan telah mengamali kekeringan maka penduduknya akan berimigrasi ke kota untuk mencari lahan perairan yang menurutnya sangat cukup untuk kebutuhannya, oleh karena itu tak heran jika kota makin harinya semakin padat dan berjejer berserakan karena adanya perpindahan penduduk desa ke kota yang di tuju, hal ini yang mengakibatkan kasus gejala penyakit DBD meningkat drastis di perkotaan. 

Editor : Heru Pratomo
#perubahan iklim #nyamuk aedes aegepty #Demam Berdarah (DBD)