PURWOREJO – Wilayah Purworejo dimasukkan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Banjarnegara dalam empat kabupaten yang rawan tsunami karena termasuk wilayah pesisir selatan dan dekat dengan lempeng megathrust. Adapun empat kabupaten tersebut antara lain Cilacap, Kebumen, Wonogiri, dan Purworejo.
Staff Operasional BMKG Banjarnegara Yusuf Nur perkasa menyampaikan, khusus Purworejo sudah dimodelkan untuk skenario terburuk gempa megathrust di Kabupaten Purworejo bisa mencapai sekitar 8,7 magnitudo, dengan ketinggian tsunami 17-18 meter. “Dengan ketinggian tersebut, radius kurang lebih sembilan kilometer ke arah kota,” ujarnya, Senin (29/4).
Pihaknya juga telah menghitung golden time waktu tiba tsunami sekitar 30 menit. Untuk simulasi biasanya kami berlari dari wilayah pesisir sampai ke tempat evakuasi pertama. "Wilayah yang paling berisiko adalah Kecamatan Ngombol, Purwodadi, dan Grabag," sambung Yusuf.
Dikatakan, di 2024 ini, pihaknya akan membuat sekolah lapangan gempa bumi dan tsunami di Kecamatan ngombol. Kegiatan itu bertujuan untuk mengedukasi warga yang ada di wilayah rawan. "Kami mengimbau masyarakat persisir agar lebih waspada. Jangan sampai lengah karena yang paling utama adalah evakuasi diri sendiri," imbaunya.
Karena itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo berikan simulasi dan edukasi terkait bencana gempa bumi kepada siswa SMP N 2 Purworejo. Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2024.
Ratusan siswa memperagakan simulasi yang diberikan oleh BPBD Purworejo dan BMKG Banjarnegara. Yakni, mulai dari mitigasi yang harus dilakukan, bagaimana cara penyelamatan diri seperti bersembunyi di kolong meja hingga berlari ke tempat yang aman jauh dari pohon.
Kepala Pelaksanaan BPBD Purworejo Haryono akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo agar dapat menggandeng sekolah-sekolah agar teredukasi. "Karena dari hasil mitigasi kami paling banyak korban adalah anak sekolah," ungkap Haryono.
Dia berharap, dengan adanya simulasi dan edukasi tersebut memberikan gambaran terkait bencana gempa bumi Sehingga, masyarakat mengetahui persis upaya penyelamatan mandiri dan mengurangi risiko. "Kami mengimbau masyarakat harus bersinergi agar masyarakat paham betul dalam menanggulangi bencana dan kemungkinan potensi yang ada," ajak dia.
Waka Kurikulum SMP N 2 Purworejo Bambang Susilo sangat mengapresiasi adanya kegiatan sosialisasi dan edukasi terkait bencana gempa bumi dari BPBD Purworejo dan BMKG. Setidaknya, ada sekitar 630 siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. "Dengan begitu, kami menjadi lebih siap jika terjadi gempa bumi," katanya. (han/pra)
Editor : Satria Pradika