Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Apa Itu All Eyes on Papua yang Sedang Viral di Media Sosial, Bagaimana Latar Belakangnya?

Silviananda Latifah Helen • Selasa, 4 Juni 2024 | 01:28 WIB
All Eyes on Papua
All Eyes on Papua

RADAR PURWOREJO - Dalam beberapa hari belakangan, poster bertuliskan "All Eyes on Papua" menyebar di media sosial, bersamaan dengan viralnya "All Eyes on Rafah".

Kalimat tersebut secara harfiah berarti "semua mata tertuju pada Papua". Ungkapan ini menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap hutan Papua yang disebut akan dijadikan lahan perkebunan sawit.

Poster ini menyebar di sosmed X dan instagram, yang menjadi trending topik teratas. Warganet menyuarakan dengan merepost poster berikut dan yang menjelaskan bahwa hutan Papua akan dibabat oleh pejabat dan petinggi untuk perkebunan sawit.

Masyarakat adat di Papua saat ini memperjuangkan hak mereka atas hutan adat yang akan kena gusur untuk dijadikan kebun sawit.

Latar belakang kampanye "All Eyes on Papua" adalah konflik lahan yang sedang terjadi di Papua. Masyarakat adat Marga Moro dan Suku Awyu didampingi oleh Koalisi Selamatkan Hutan Adat Papua menggungat izin lingkungan kebun sawit PT Indo Asiana Lestari (PT IAL).

Mereka menolak dengan tegas rencana pembabatan hutan seluas 36 ribu hektar itu. Apabila proyek tersebut terlaksana, hutan adat yang selama ini merupakan sumber penghidupan bagi mereka akan hilang, kehidupan mereka terancam.

Yayasan Pusaka Bentala Rakyat melalui laman petisi change.org sejak 2 Maret 2024, mengajak orang-orang menandatangani petisi pencabutan izin sawit PT IAL.

Petisi tersebut menjelaskan bahwa menghilangkan hutan alam dengan luas separuh Jakarta adalah suatu bencana. Hilangnya rimba Papua untuk proyek perkebunan sawit PT IAL akan menghilangkan emisi 25 juta ton CO2, yang sama dengan menyumbang 5 persen dari tingkat emisi karbon tahun 2030. Dampaknya tidak hanya di Papua, tetapi juga ke seluruh dunia.

Pada Senin, 27 Mei 2024, masyarakat adat Papua Barat Awyu dan Moi melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Mahkamah Agung (MA). Mereka melakukan aksi damai dengan menggunakan baju adat mereka sembari meluapkan penolakan atas izin perusahaan perkebunan kelapa sawit di Boven Digoel dan Sorong.

Seruan untuk memperhatikan kondisi Papua sangat nyaring di media sosial, khususnya X. Dalam unggahan akun @tanyakanrl (31/5/24) disebutkan bahwa hak-hak masyarakat Papua tengah direnggut paksa oleh penguasa.

Unggahan yang disertai poster bertuliskan “All Eyes on Papua” itu menjadi viral dengan total views sebanyak 1,1 juta, dan disukai oleh 47,1 ribu orang. Tidak hanya viral, muncul juga petisi solidaritas untuk Papua yang diusung Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.

Dalam petisi itu dijelaskan bahwa hutan di Papua akan dibabat demi pembangunan perkebunan sawit. Masyarakat adat Papua Barat menolak dengan tegas rencana pembabatan hutan seluas 36 ribu hektar itu.

Apabila proyek tersebut terlaksana, hutan adat yang selama ini merupakan sumber penghidupan bagi mereka akan hilang, kehidupan mereka terancam.

 

Editor : Heru Pratomo
#masyarakat adat #warganet #media sosial #papua #All Eyes on Papua #kebun sawit #trending topik