Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Alumni UMY Ini Tega Tak Lantik Kakak Sendiri sebagai Inspektur NTB Meski Nilai Tertinggi

Magang Radar Purworejo • Jumat, 10 Oktober 2025 | 23:11 WIB
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal

 

JOGJA – Di tengah sorotan terhadap praktik nepotisme di birokrasi, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal memilih langkah yang tidak populer, tapi bermartabat. Ia menolak melantik kakak kandungnya sendiri, Baiq Nelly Kusumawati, sebagai Inspektur NTB, meski sang kakak meraih nilai administratif tertinggi dalam seleksi terbuka yang diawasi langsung Mahkamah Agung.

 

“Ini soal menjaga integritas. Bukan tentang siapa yang paling layak di atas kertas, tapi siapa yang paling tepat untuk posisi yang mengawasi langsung gubernur,” ujar Iqbal kepada Lombok Post, Jumat (3/10).

 Baca Juga: Edisi Terbatas, Kolaborasi Unik Honda Scoopy dengan Kuromi

Suara alumni HI UMY berat, nyaris tercekat. Matanya basah ketika mengenang keputusan yang diambil—menyampingkan hubungan darah demi menjaga marwah pemerintahan. Ia tidak sedang berbasa-basi. Jabatan inspektur, menurutnya, bukan sekadar jabatan struktural. Itu posisi yang menuntut jarak, obyektivitas, bahkan keberanian moral untuk mengoreksi kepala daerah.

 

“Bagaimana mungkin seorang kakak, yang sejak kecil menggantikan peran ibu bagi saya, bisa benar-benar objektif saat saya keliru?” ucapnya lirih.

 

Tak ada yang meragukan kapasitas Baiq Nelly. Auditor berpengalaman, pemilik berbagai sertifikasi, dan mendapat nilai tertinggi dari serangkaian seleksi ketat yang melibatkan Itjen Kemendagri serta Mahkamah Agung. Tapi bagi Iqbal, justru karena tahu kualitas sang kakaklah, ia tidak ingin namanya terseret isu nepotisme.

 Baca Juga: Menuju Regional Public Launching New Honda ADV160 Nampang Di Pakuwon Mall Jogja

“Saya tahu beliau akan selalu berusaha melindungi saya. Itu naluri seorang kakak, seorang ibu,” jelas mantan juru bicara Kementerian Luar Negeri ini. “Jika saya salah, saya khawatir beliau bimbang untuk menegur.”

 

Pilihan Iqbal adalah pilihan etis yang langka di tengah birokrasi yang kerap terjebak pada kompromi kepentingan. Ia lebih memilih menghadapi kritik daripada menggadaikan kepercayaan publik pada sistem yang ia pimpin.

 

Sikap sang kakak pun tak kalah bijak. Alih-alih kecewa, Baiq Nelly mengaku bangga. “Keputusanmu sudah bijaksana. Mbak tidak kecewa. Mbak yakin, bapak dan ibu rida atas keputusan ini,” kata Nelly seperti ditirukan Iqbal.

 Baca Juga: Honda Stylo 160 Antar Modifikator Indonesia ke Ajang Modifikasi Dunia Mooneyes, Jepang

Dalam wawancara terpisah, Nelly mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti seleksi bukan untuk mendapat jabatan, tapi sebagai ujian kapabilitas diri. Ia sudah siap menerima apa pun hasil akhirnya.

 

“Saya bangga dengan sikap profesional Pak Gubernur. Ini pembelajaran besar bagi kita semua,” ucap Nelly.

 

Iqbal sadar, tak semua sepakat dengan keputusannya. Ada yang mempersoalkan mengapa peraih nilai tertinggi tak dilantik. Namun, bagi Iqbal, ini bukan sekadar urusan angka.

 Baca Juga: Melesat Kencang, Pebalap Binaan Astra Honda Nyaris Podium di IATC Mandalika

“Kalau posisinya bukan inspektur, mungkin saya bisa pertimbangkan. Tapi ini jabatan yang mengawasi gubernur. Integritas sistem harus diutamakan,” tegasnya.

 

Sebagai gubernur yang baru dilantik 25 Februari 2025 lalu, Iqbal mengawali pemerintahannya dengan keputusan sulit, namun menunjukkan arah kepemimpinan yang menjunjung akuntabilitas.

 

“Saya percaya, jika proses dijaga objektif dan transparan, keputusan-keputusan terbaik akan selalu lahir. Untuk NTB yang lebih bersih dan dipercaya,” pungkasnya.

 

 

Editor : Heru Pratomo
#iqbal #NTB #Mahkamah Agung (MA) #Lalu Muhamad Iqbal #kementerian luar negeri #alumni UMY #inspektur #gubernur ntb