RADAR PURWOREJO- Serangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) memicu keprihatinan mendalam masyarakat Indonesia.
Di tengah duka yang masih menyelimuti, diskursus di media sosial menghangat. Warganet ramai-ramai menyebut rentetan bencana mematikan ini sebagai bencana ekologis, bukan sekadar bencana alam biasa.
Sentimen ini menguat seiring dengan temuan di lapangan yang menunjukkan adanya keterkaitan erat antara bencana dengan aktivitas perusakan lingkungan, seperti penebangan liar dan penambangan.
Muara Kerusakan Lingkungan
Bencana yang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera ini telah menewaskan ratusan jiwa dan membuat ribuan warga mengungsi. Namun, bagi sejumlah netizen, menyebut ini sebagai "bencana alam" cenderung mengaburkan akar masalah sebenarnya. Mereka berpendapat bahwa ini adalah hasil akumulasi dari kerusakan lingkungan yang terencana dan sistemik.
"Banjir bandang kali ini bukan hanya soal air hujan yang melimpah, tapi juga bekas-bekas penebangan liar yang dibawa arus banjir," cuit seorang warganet di platform X (sebelumnya Twitter), yang mendapat banyak respons positif.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh sebelumnya juga telah menyuarakan nada serupa, menyebut banjir besar sebagai bencana ekologis akibat kerusakan yang terencana.
Desakan Agar Pemerintah Serius
Diskusi di jagat maya ini bukan sekadar soal diksi, melainkan desakan agar pemerintah dan pemangku kebijakan lebih serius dalam menangani isu lingkungan hidup.
Netizen menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan tanah di sekitar wilayah perbukitan, terutama yang dilalui Bukit Barisan.
Tagar #PrayforAceh dan #PrayforSumatra digunakan warganet untuk menyuarakan agar bencana akibat cuaca ekstrem ini tidak lagi diperparah oleh krisis iklim dan perusakan ekosistem yang terus berlangsung. Mereka berharap ada investigasi mendalam terhadap penyebab pasti bencana ini.
Pemerintah daerah dan pusat didesak untuk menghentikan segala bentuk aktivitas yang merusak lingkungan dan menjalankan jurnalisme lingkungan yang solutif untuk mengedukasi publik. Tujuannya jelas: agar hutan yang lestari dapat menjaga keselamatan anak cucu di masa mendatang.
Editor : Heru Pratomo