Investigasi Kayu Gelondongan Banjir Sumut, Aroma Illegal Logging Kian Menyengat
Magang Radar Purworejo• Sabtu, 29 November 2025 | 20:03 WIB
Kondisi rumah warga yang rusak akibat banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025).
RADAR PURWOREJO – Bencana banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut), seperti Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga, menyisakan tanya besar.
Bukan sekadar volume air bah yang mengejutkan, tetapi penampakan ribuan kayu gelondongan raksasa yang ikut terseret arus, memicu dugaan kuat adanya praktik pembalakan liar atau illegal logging di kawasan hulu.
Fenomena tumpukan kayu tanpa kulit yang memenuhi sungai dan pesisir pantai pasca-banjir ini sontak memantik kemarahan publik dan desakan agar pemerintah segera mengusut tuntas.
Gubernur Sumut, Bobby Nasution, tak menampik kegeraman warga. Menanggapi video viral yang beredar luas, Bobby menegaskan akan segera melakukan pengecekan mendalam terkait asal-usul kayu-kayu tersebut.
Pihaknya berjanji akan menginvestigasi apakah ada indikasi pembalakan liar yang memperparah dampak bencana hidrometeorologi ini.
Dari Jakarta, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) juga buka suara. Kemenhut telah menelusuri sumber gelondongan kayu dan menduga kuat bahwa material tersebut berasal dari area Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) yang berada di Areal Penggunaan Lain (APL).
"Faktanya saat terjadi banjir bandang di Tapteng dan Tapsel, yang hanyut banyak kayu gelondongan, berarti ada perambahan hutan di hulu sungai," ujar seorang anggota Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, yang mendesak agar masalah ini tidak dianggap sepele.
Jejak Deforestasi di Tengah Siklon Tropis
Bencana ini sendiri dipicu oleh cuaca ekstrem, termasuk adanya Siklon Tropis Senyar. Namun, ahli lingkungan dan Forest Watch Indonesia (FWI) menunjuk satu biang kerok lain: deforestasi masif. Berkurangnya tutupan lahan di hulu sungai membuat air hujan tidak terserap maksimal ke dalam tanah, melainkan menjadi aliran permukaan yang membawa material hutan, termasuk kayu-kayu besar.
Warga setempat menduga, banjir kali ini adalah puncak dari akumulasi kerusakan lingkungan akibat aktivitas penebangan yang berlangsung bertahun-tahun.
Kini, pihak berwenang didesak untuk tidak hanya fokus pada penanganan pascabencana, tetapi juga menghentikan praktik ilegal yang mengancam keselamatan warga di masa mendatang.
"Ini bukan cuma faktor alam, tapi ada ulah manusia serakah," tegas seorang warga yang geram melihat kondisi sungainya penuh dengan 'panen' kayu ilegal. Investigasi masih berlanjut, dengan harapan ada tindakan hukum tegas bagi para perusak hutan.