RADAR PURWOREJO - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tanah Sumatera khususnya daerah Sibolga dan Tapanuli Tengah di Sumatera Utara telah membawa penderitaan yang sangat mendalam bagi ribuan masyarakat.
Kerusakan infrastruktur membuat jalan tak lagi layak dilalui dan jalur transportasi terputus, sehingga pasokan makanan serta kebutuhan pokok menurun drastis.
Akibat bantuan yang tak kunjung datang, sebagian dari mereka terpaksa melakukan tindakan nekat dengan merampas demi bertahan hidup.
Dari sejumlah video dan laporan yang beredar di media sosial, memperlihatkan warga, bahkan anak-anak melakukan aksi penjarahan di minimarket dan gudang logistik.
Mereka tampak membawa karung beras serta minyak goreng dari gudang penyimpanan milik lembaga logistik.
Dalam keadaan mendesak seperti itu, etika dan aturan hukum tak lagi menjadi prioritas utama karena keselamatan dan kebutuhan dasar harus segera dipenuhi.
Dorongan untuk tetap hidup membuat manusia mengambil keputusan paling cepat untuk menghindari kelaparan dan ketidakpastian.
Pemerintah dan aparat berada dalam posisi yang serba sulit.
Menurut hukum tindakan penjarahan jelas tidak dapat dibenarkan, namun sulit mengabaikan fakta bahwa banyak korban bencana yang benar-benar kelaparan, kehilangan harta benda, dan berada pada kondisi terdesak hingga tak punya pilihan lain.
Peristiwa ini seolah menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak bahwa upaya mitigasi bencana bukan hanya tentang infrastruktur fisik seperti tanggul atau penahan banjir.
Ketika bencana datang, yang paling dibutuhkan warga adalah suplai makanan, air, dan barang pokok lainnya yang dapat segera menjangkau mereka.
Bila kebutuhan mendasar tidak terpenuhi, kepanikan dan kekacauan akan menjadi risiko yang tak terhindarkan. (Desfina Citra)