Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Fernandi, Korban Selamat Banjir Bandang Padang yang Terbawa Arus 150 Meter

Bahana. • Kamis, 4 Desember 2025 | 22:56 WIB

Fernandi, Korban banjir bandang padang yang selamat setelah terbawa arus 150 meter
Fernandi, Korban banjir bandang padang yang selamat setelah terbawa arus 150 meter
Subuh yang biasanya sunyi berubah menjadi kepanikan mencekam bagi Fernandi (47), warga Kampung Apar, Kelurahan Kotopanjang Ikua Koto, Kecamatan Kototangah.

Banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan tersebut pada Kamis (27/11/2025) nyaris merenggut nyawanya.

Gelondongan kayu besar dan material bangunan yang runtuh membuatnya terjepit di dalam rumah sebelum akhirnya ia terselamatkan meski sempat terbawa arus sejauh sekitar 150 meter dari lokasi awal.

Peristiwa tragis itu masih teringat jelas dalam benak Fernandi. Hujan deras yang mengguyur kawasan Batang Aia Proyek sejak dini hari menjadi awal bencana.

Baru terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara keras hentakan kayu menghantam dinding rumah secara beruntun, disusul air bercampur lumpur pekat yang menerjang masuk ke dalam rumah.

Dalam kondisi panik, saat tinggi air sudah mencapai sepaha, Fernandi hanya sempat meraih satu benda yang dekat dengannya, yakni telepon genggam.

Arus air yang datang sangat cepat membuatnya tidak sempat menyelamatkan dokumen penting maupun barang berharga lain.

Dalam hitungan menit, ketinggian air meningkat hingga mencapai dada, diiringi hantaman kayu-kayu besar yang kembali meruntuhkan bagian dinding rumah.

Terjepit Balok Kayu, Nyaris Kehabisan Napas

Dinding depan rumahnya roboh dan menyeret tubuhnya ke sisa dinding yang masih berdiri. Sebuah balok kayu besar kemudian menghantam dan menekan lehernya, sementara arus deras menahan tubuhnya kuat-kuat. Dalam kondisi itu, ia tidak dapat bergerak dan mulai kesulitan bernapas.

“Airnya makin tinggi dan arusnya juga makin deras. Saat itu saya benar-benar tidak ada jalan keluar lagi. Leher saya kejepit, arus menahan badan saya dari depan, ditambah lagi kayu seperti balok yang menjepit leher saya, jadi tidak bisa bergerak dan payah bernapas,” ujar Fernandi kepada Padang Ekspres.

Dalam kepasrahan menanti maut, ia mencoba menerima kemungkinan terburuk. “Dalam pikiran saya saat terjepit itu, kalau ini ajal saya, saya ikhlas,” katanya.

Namun naluri bertahan hidup mendorongnya membuat keputusan berat. Telepon genggam yang sejak awal digenggam erat terpaksa dilepaskan agar ia dapat menggunakan kedua tangannya untuk menyingkirkan balok kayu yang menjepit lehernya.

Terbawa Arus 150 Meter

Setelah berjuang, balok kayu berhasil terlepas. Namun tubuhnya langsung terseret derasnya arus galodo tanpa kendali. Ia berusaha menghindari hantaman kayu dan puing-puing bangunan yang hanyut bersama arus.

“Saya terbawa arus sekitar 150 meter dari rumah. Saat itu saya berusaha meraih ranting-ranting yang ada, bertahan dari satu pohon ke pohon lainnya. Bukan hanya air saja yang datang, tapi juga kayu-kayu besar dan sisa bangunan rumah yang runtuh,” ungkapnya.

Upaya bertahan itu akhirnya membawanya ke sebuah pohon alpukat, tempat ia menahan diri dari sergapan arus. Dari sana ia menyaksikan rumahnya sudah rata dengan tanah.

“Saat saya bertahan di pohon alpukat itu, saya menyaksikan rumah saya sudah rata diterjang galodo,” ujarnya lirih.

Menyaksikan Warga Lain Terbawa Arus

Selama hanyut, ia juga melihat warga lain berjuang mempertahankan hidup. Jeritan minta tolong terdengar bersahut-sahutan, bercampur dengan suara gemuruh air.

“Saya lihat orang-orang juga hanyut. Ada yang memegang batang pohon, ada yang sudah naik ke atas rumah, ada juga yang terbawa kayu-kayu itu. Suasananya sangat kacau, seperti sudah mau kiamat rasanya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kehilangan Segalanya, Selamatkan Nyawa

Ketika arus mulai melemah, Fernandi berusaha kembali mendekati lokasi rumahnya dengan berpindah dari satu pohon ke pohon lain, meski arus balik masih membawa reruntuhan.

“Saya berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk melihat kondisi rumah saya yang sudah hancur, tidak ada tersisa,” tuturnya.

Kini, ia hanya dapat berdiri di antara puing-puing yang tersisa. Rumah dan seluruh isinya tidak dapat diselamatkan. Meski kehilangan segalanya, ia tetap bersyukur.

“Alhamdulillah saya masih hidup, tapi barang-barang dan rumah sudah habis semuanya,” katanya pelan.

Muhtar Dinata

Editor : Bahana.
#korban banjir bandang