Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kasus Banjir di Malang Melonjak 500 Persen, BPBD Sebut Situasi Makin Mengkhawatirkan

Heru Pratomo • Sabtu, 6 Desember 2025 | 01:38 WIB
Kasus Banjir di Malang Melonjak 500 Persen, BPBD Sebut Situasi Makin Mengkhawatirkan
Kasus Banjir di Malang Melonjak 500 Persen, BPBD Sebut Situasi Makin Mengkhawatirkan

 

MALANG – Hujan dengan intensitas lebat mengguyur Kota Malang pada Kamis siang, (4/12/2025). Akibatnya, puluhan titik di berbagai wilayah kota terendam banjir. Data resmi mencatat ada 39 titik banjir yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Blimbing, Sukun, dan Lowokwaru.

 

Menurut laporan Radar Malang, luapan air terjadi relatif cepat dan membuat beberapa kawasan mengalami genangan cukup tinggi. Sejumlah warga bahkan dikabarkan sempat terjebak di rumah akibat naiknya debit air secara tiba-tiba. Pada saat yang sama, hujan deras juga menyebabkan pohon tumbang, menambah panjang daftar kejadian yang ditangani oleh petugas gabungan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga pertengahan November 2025, Kota Malang telah mengalami 187 kejadian banjir. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Terjadi peningkatan hingga 500 persen lebih dibanding periode sebelumnya,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Malang Surya Adhi Nugroho

 

Lonjakan ini disebut sebagai alarm serius mengenai kondisi penanganan air dan tata kota di Malang. Dia menyebut, banjir terjadi akibat kombinasi antara hujan ekstrem dan buruknya kondisi saluran air.

“Penyebab utama banjir adalah hujan dengan intensitas tinggi dan drainase yang tersumbat, sehingga air tidak dapat mengalir dengan baik,” tuturnya.

Minimnya area resapan dan meningkatnya pembangunan juga memperburuk kondisi ketika hujan deras melanda.

 

Genangan tidak hanya menutup ruas jalan utama; air juga masuk ke permukiman warga. “Luapan air tidak cuma memenuhi jalan, tapi juga merendam pemukiman warga, membuat sejumlah rumah tergenang,” ungkapnya.

 Baca Juga: Perkuat Kerjasama, Prabowo Terima Kunjungan Sekjen Liga Muslim Dunia

Selain itu, insiden pohon tumbang akibat tanah yang jenuh oleh air hujan menambah kerusakan di beberapa titik. Radar Malang juga melaporkan bahwa banjir dan tanah longsor menyebabkan kerusakan pada rumah warga, fasilitas publik, hingga institusi pendidikan.

 

BPBD menyebut bahwa banyak kelurahan kini masuk kategori rawan multi-bencana, bukan hanya banjir tetapi juga longsor dan cuaca ekstrem.

BPBD Kota Malang mengeluarkan imbauan agar warga yang tinggal di bantaran sungai dan area rawan banjir meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan.

 “BPBD mengimbau warga untuk waspada, terutama yang tinggal di sepanjang bantaran sungai dan kawasan rawan,” ujarnya

 Baca Juga: Abrasi hingga Tak Sesuai Syarat Teknis, Alasan Kampung Nelayan Merah Putih di Kulon Progo Batal  

Pemerintah juga telah menyusun rencana kontingensi menghadapi banjir, termasuk pemetaan ulang titik rawan dan penyediaan sistem peringatan dini (EWS).

 

Selain itu, perbaikan drainase dan pembersihan saluran air menjadi prioritas di beberapa wilayah untuk mengurangi risiko genangan. “Drainase dan saluran air tersumbat, kurangnya resapan air akibat urbanisasi, serta rendahnya kesadaran menjaga lingkungan menjadi penyebab utama meningkatnya banjir,” analisisnya.

 

Editor : Heru Pratomo
#Malang #banjir #BPBD