Polemik tersebut bahkan mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang melalui pernyataan bernada sindiran meminta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian untuk mencopot Mirwan dari jabatannya.
Prabowo menyamakannya dengan tindakan desersi atau lari dari peperangan.
Pemeriksaan terhadap Mirwan diagendakan berlangsung di Aceh. Namun, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) masih menunggu konfirmasi kehadiran yang bersangkutan.
"Sesuai agenda, sudah diundang untuk memberikan keterangan hari ini. Kami masih menunggu informasi dari tim pemeriksa di Aceh," kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri, Benny Irwan, saat dikonfirmasi, Senin (8/12).
Benny menjelaskan bahwa tim pemeriksa Kemendagri telah berada di Aceh sejak Sabtu (6/12). Pemeriksaan dijadwalkan berlangsung hari ini pukul 17.00 WIB.
"Bupati Aceh Selatan (jadwal klarifikasi pada undangan pukul 14.00, terkonfirmasi baru sampai di Banda Aceh sore, sehingga permintaan keterangan bergeser ke pukul 17.00 WIB)," tegasnya.
Sebelumnya, dalam rapat penanganan bencana di Banda Aceh pada Minggu (7/12) malam, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada para kepala daerah yang hadir sekaligus menegaskan pentingnya kesiapsiagaan pemimpin daerah dalam menghadapi keadaan krisis.
“Terima kasih. Hadir semua bupati? Terima kasih ya, para bupati. Kalian yang terus berjuang untuk rakyat. Memang kalian dipilih untuk menghadapi kesulitan,” tegas Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyindir keras kepala daerah yang meninggalkan warganya saat terjadi bencana, dan meminta Mendagri untuk menindak tegas.
“Kalau ada yang mau lari, lari saja enggak apa-apa hehe. Copot. Mendagri bisa ya, diproses ini?” tegas Prabowo.
“Bisa, Pak,” jawab Mendagri Tito Karnavian.
Prabowo kemudian menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat ditoleransi, bahkan dalam dunia militer dianggap sebagai pelanggaran berat.
“Itu kalau tentara namanya desersi. Dalam keadaan bahaya, meninggalkan anak buah, waduh itu enggak bisa. Saya enggak mau tanya partai mana. Sudah kau pecat?” pungkasnya.
Muhtar Dinata