Dalam sepekan terakhir, Gunung Semeru sudah erupsi 14 kali. Dengan salah satu fase intens terjadi pada 19 November 2025 yang mendorong penutupan total jalur pendakian dan kawasan wisata di sekitar gunung.
Laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mencatat bahwa pada 19 November 2025 status Semeru sempat dinaikkan bertahap dari Waspada menjadi Siaga hingga Awas dalam rentang waktu yang singkat karena peningkatan erupsi dan awan panas.
Menurut laporan aktivitas gunung api melalui aplikasi MAGMA Indonesia, tingkat aktivitas Gunung Semeru di Level III (Siaga).
Pengamatan kegempaan pada 10 Desember 2025 pukul 06.00-12.00 WIB menunjukkan terjadi 42 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 milimeter dan lama gempa 64-128 detik.
Kemudian, 4 kali gempa hembusan dengan amplitudo 6-8 milimeter dan lama gempa 33-86 detik.
Pemerintah daerah bersama BNPB dan BPBD menetapkan masa tanggap darurat, mengevakuasi ratusan warga, dan melarang seluruh aktivitas dalam radius beberapa kilometer dari puncak serta sepanjang aliran sungai yang berhulu di Semeru.
Rangkaian erupsi tersebut menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah desa, menutup akses jalan, serta memaksa penghentian sementara kegiatan ekonomi dan pendidikan di area terdampak.
Jalur pendakian menuju Semeru, termasuk kawasan Ranu Kumbolo, ditutup sepenuhnya demi keselamatan pengunjung dan petugas, dan hingga awal Desember 2025 kebijakan pembatasan ini masih diberlakukan sambil menunggu penurunan signifikan aktivitas vulkanik.
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.