Sistem ini masih berada pada tahap awal pembentukan siklon tropis namun sudah memasuki area pemantauan intensif karena potensi dampaknya terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan dan timur.
BMKG mencatat bahwa bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot (sekitar 28 km/jam) dan tekanan minimum sekitar 1009 hPa, sehingga struktur awannya belum cukup terorganisir untuk berkembang menjadi badai.
Sistem cenderung bergerak perlahan ke arah barat daya, menjauhi daratan Indonesia, sehingga tidak diperkirakan langsung menyerang wilayah pulau besar di Indonesia dalam waktu dekat.
Meski belum menjadi siklon tropis penuh, pengaruh tidak langsung dari 93S sudah mulai terasa.
BMKG memperkirakan wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berpeluang mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, terutama saat sistem ini masih berada di perairan selatan.
Selain itu, potensi gelombang laut tinggi mencapai 1,25–2,5 meter diprediksi terjadi di Samudra Hindia bagian selatan Jawa Timur sampai NTT, serta perairan selatan Bali–Lombok–Alas.
Karena peluang intensitas bibit meningkat dalam 48–72 jam berikutnya, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah pesisir, untuk tetap waspada.
Meskipun sistem bergerak menjauhi daratan, hujan lebat tetap bisa menyebabkan genangan, banjir lokal, dan tanah longsor di daerah tertentu.
Selain itu, nelayan, pelaku pelayaran, dan wisatawan di sekitar perairan yang diperkirakan terdampak disarankan memantau perkembangan melalui kanal informasi resmi BMKG.
Berbagai pihak juga menyoroti pentingnya antisipasi lebih awal terhadap bibit siklon ini.
Fraksi PDIP di DPR menekankan perlunya mitigasi cuaca ekstrem dilakukan lebih cepat dan menyeluruh, termasuk koordinasi antara BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, dan institusi terkait.
Mereka juga mendorong agar edukasi dan peringatan dini dapat disebarkan secara lebih cepat kepada masyarakat, terutama di daerah rawan bencana seperti pesisir, dataran rendah, dan wilayah dengan drainase lemah.
Selain itu, DPR mengingatkan bahwa kesiapsiagaan terhadap ancaman cuaca harus mencakup rencana evakuasi, sistem peringatan lokal, dan penyiapan infrastruktur penunjang seperti posko darurat, sarana kesehatan, hingga logistik.
Ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko dampak buruk seperti yang dialami wilayah lain di Indonesia akibat cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam situasi seperti ini, penting bagi publik untuk tetap tenang namun siaga, memastikan setiap langkah keselamatan didasari informasi dari lembaga resmi, serta merespon perubahan cuaca dengan cepat dan tepat.
BMKG menjanjikan pembaruan informasi secara real-time terkait kondisi bibit siklon, gelombang tinggi, dan prakiraan cuaca harian untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang aman.
Writer Naela Alfi Syahra
Editor : Bahana.