Ia berhasil menyelamatkan empat warga dalam peristiwa galodo yang menerjang Kampung Sikumbang, Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (27/11).
Wirman yang telah 16 tahun bergabung sebagai anggota Tagana berada di rumahnya saat galodo (banjir bandang) datang secara tiba-tiba dari arah hulu sungai. Ia mengatakan peristiwa itu berlangsung sangat cepat dan disertai suara keras.
“Semua terjadi begitu cepat, bu, suara itu macam pesawat mau landing,” ujar Wirman saat ditemui di Dapur Umum Lapangan Kementerian Sosial RI, Jumat (12/12).
Saat kejadian, Wirman baru pulang setelah dua hari bertugas menangani banjir di wilayah lain.
Ia sempat hendak kembali bertugas, namun ditahan istrinya untuk makan terlebih dahulu.
“Makan dulu. Udah dua hari tak pulang,” kata Wirman menirukan ucapan istrinya.
Tak lama berselang, suara gemuruh terdengar dari arah bukit. Kampung Sikumbang yang berjarak sekitar 75 meter dari sungai langsung terdampak. Wirman menyebut tinggi gelombang air dan lumpur mencapai puluhan meter.
“Air besar, bu, tingginya lebih kurang 40 meter di belakang rumah. Cepat sekali,” katanya.
Mengikuti pelatihan kebencanaan yang pernah dijalaninya, Wirman meminta istrinya tetap berada di dalam rumah saat gelombang besar pertama melintas.
“Jangan keluar. Kita bertahan dulu. Yang besar datang sekali. Setelah itu baru bergerak,” ujarnya.
Usai gelombang utama berlalu, Wirman langsung keluar rumah dan melakukan penyelamatan.
Korban pertama yang ia evakuasi adalah seorang warga yang setengah tenggelam di lumpur.
“Saya selamatkan. Tarik ke rumah,” kata dia.
Korban tersebut kemudian dibersihkan dan mendapatkan pertolongan.
“Hidup lagi orangnya,” tambah Wirman. Tak lama kemudian, Wirman kembali menyelamatkan seorang nenek berusia sekitar 68 tahun yang ditemukan dalam kondisi tubuh tertutup lumpur.
“Kasihan kali, bu. Saya langsung gendong,” ujarnya.
Evakuasi berikutnya dilakukan terhadap seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang hampir tenggelam di bawah batang kayu.
“Anak kecil itu nadinya sudah lemah. Nafasnya susah,” kata Wirman.
Anak tersebut langsung dibawa ke rumah untuk mendapatkan pertolongan.
Selanjutnya, Wirman juga mengevakuasi satu korban lain yang terjebak lumpur di pematang sawah dengan menggunakan terpal.
“Tarik pelan-pelan, zig-zag. Kayu banyak sekali,” ujarnya.
Dalam waktu kurang dari satu jam, empat warga berhasil diselamatkan dalam kondisi kritis. Tidak ada korban jiwa dari warga yang dievakuasi langsung oleh Wirman.
Saat ini, Kampung Sikumbang mengalami kerusakan parah akibat galodo. Akses jalan terputus dan distribusi bantuan masih terkendala kondisi medan.
“Bantuan ada, bu. Tapi banyak terhenti di luar. Ke dalam yang sulit. Kami maklum, akses semua putus,” kata Wirman.
Ia mengatakan warga kini bergantung pada Dapur Umum Lapangan Kemensos untuk memenuhi kebutuhan pangan harian.
“Selama kami bisa nyeberang, kami keluar cari makan. Pagi, siang, malam. Untuk warga,” ujarnya.
Wirman menegaskan bahwa keikhlasan menjadi prinsip utama dalam tugas kemanusiaan.
“Ikhlas nomor satu. Jangan berharap apa-apa. Kepuasan menolong itu yang paling besar,” katanya.
Sebagai relawan Tagana, Wirman terus terlibat dalam penanganan darurat bersama Kementerian Sosial RI, menjadi salah satu garda terdepan dalam upaya penyelamatan dan pemulihan warga terdampak bencana galodo di Kabupaten Agam.
Muhtar Dinata