Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi penyintas banjir di Aceh terus dipercepat. Mengembangkan inisiatif awal dari 100 unit, Universitas Gadjah Mada (UGM) kini menyiapkan hingga 550 unit huntara berbasis pemanfaatan kayu hanyut.
Langkah ini diambil untuk mengeluarkan warga dari tenda darurat menuju hunian yang lebih layak, sehat, dan aman.
Ir. Ashar Saputra, Ph.D., anggota Tim UGM, mengungkapkan bahwa kebutuhan ini didasarkan pada skala kerusakan yang masif. Di Desa Geudumbak saja, terdapat 430 rumah rusak berat.
"Inisiatif ini bertujuan memindahkan penyintas dari tenda ke rumah yang sehat dan aman agar fungsi keluarga kembali berjalan," ujar Ashar, Kamis (15/1).
Pemanfaatan Material Lokal dan Kerja Sama Lintas Sektor
Program ini mengedepankan efisiensi dengan memanfaatkan kayu hanyut sisa banjir. Kayu-kayu tersebut diolah segera agar kualitasnya tidak menurun. Dukungan penyediaan material datang dari BNPB dan Kementerian Kehutanan, sementara Rumah Zakat bertindak sebagai donor sekaligus mitra pelatihan tenaga kerja lokal.
Dengan skema "uang lelah", roda ekonomi warga mulai bergerak. "Satu unit rumah dikerjakan oleh enam orang—dua tukang utama dan empat warga. Awalnya memakan waktu enam hari, namun kami optimistis bisa mencapai target empat hari per unit," jelas Ashar.
Desain Sehat dan Prioritas Penerima
Huntara dirancang berukuran 6x6 meter dengan fasilitas:
-
Dua kamar tidur privat.
-
Ruang multifungsi (dapur/ruang keluarga).
-
Teras.
-
Pilihan model panggung atau non-panggung sesuai kebutuhan lokasi.
Agar adil, prioritas penerima ditentukan melalui rembuk gampong (musyawarah desa). Lansia, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga yatim piatu menjadi daftar utama yang didahulukan.
Baca Juga: Menyelami Sejarah Isra Miraj: Perjalanan Suci Menembus Langit Ketujuh
Kisah di Balik Angka: Bertahan di Pohon Sawit
Di balik teknis pembangunan, terselip kisah kemanusiaan mendalam. Salah satunya keluarga Misran. Saat banjir bandang menerjang, Misran bersama istrinya yang tengah hamil besar terpaksa bertahan selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit.
Kini, rumah Misran telah rampung dibangun. "Waktu itu kami hanya berusaha bertahan, sekarang kami sudah bisa tinggal di rumah yang lebih aman," ungkap Misran haru.
Editor : Heru Pratomo