Bakteri tersebut menyerang kulit, saraf tepi, mata, dan saluran pernapasan yang membuat penderitanya kebal terhadap rangsangan pada bagian tubuh tertentu atau mati rasa (baal).
Selain itu, penyakit kusta yang tidak diobati sedari dini dapat mengakibatkan cacat permanen pada penderitanya.
Penyakit kusta tidak hanya mengganggu kesehatan, melainkan juga kesejahteraan penderitanya. Stigma masyarakat yang buruk terhadap penyakit kusta menyebabkan penderitanya mengalami diskriminasi karena masyarakat beralasan takut tertular penyakit tersebut.
Hannan dan kawan-kawan (dkk) dalam penelitian yang dilakukan menjelaskan bahwa pandangan masyarakat terhadap penyakit kusta didasarkan pada pengetahuan mereka mengenai penyakit tersebut dari lingkungan masyarakat sekitar.
Dalam penelitian tersebut, semua informan mengatakan bahwa kusta adalah penyakit menular, kutukan Tuhan, dan sebagian menganggap sebagai guna-guna tanpa mengetahui secara pasti penyebab dari penyakit kusta itu sendiri.
Pertiwi & Syahrul dalam jurnal The Indonesian Journal of Public Health yang berjudul “Risk Factors for Leprosy: A Systematic Review” memaparkan penyebab atau faktor-faktor risiko penyakit kusta yang dibagi menjadi tiga bagian, yakni sebagai berikut:
Karakteristik dan Perilaku Individu:
1. Kebersihan Pribadi
Menjaga kebersihan diri sendiri dapat melindungi individu dari mikroorganisme berbahaya, seperti bakteri Mycobacterium leprae yang dapat menyebabkan penyakit kusta.
Merawat kulit, kuku, dan rambut sangat penting dalam mencegah penularan kusta karena kontak langsung dengan bagian-bagian tersebut dapat mengakibatkan infeksi. Individu yang tidak merawat kebersihan diri dengan baik berisiko 1,537 kali lebih mungkin terkena penyakit kusta daripada individu yang menjaga kebersihan pribadi dengan baik.
2. Riwayat Kontak
Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa riwayat kontak secara langsung dan melalui pertukaran udara sangat mempengaruhi penularan kusta. Tetapi terdapat penjelasan berdasarkan penelitian dari Oktavian dkk (2018) dan Masrizal dkk (2020) yang menjelaskan bahwa riwayat kontak bukanlah faktor penentu yang cukup kuat atau tidak selalu menjadi penyebab kusta.
3. Vaksinasi Bacillus Calmette-Guérin (BCG)
Vaksinasi BCG dapat melindungi individu dari kusta dan memberikan perlindungan bagi mereka yang kontak dengan pasien penderita kusta.
Faktor Risiko Kusta Berdasarkan Lingkungan Fisik:
1. Kepadatan Rumah Tangga
Kepadatan rumah dapat menyebabkan kurangnya suplai oksigen sehingga memudahkan penularan kusta terhadap individu di tempat tinggal yang sama.
Selain itu, rumah dengan kepadatan yang tidak sesuai dengan standar rumah sehat berisiko tiga hingga enam kali lebih tinggi menyebabkan penularan kusta dibandingkan rumah dengan kepadatan rumah yang memenuhi persyaratan standar kesehatan.
2. Kelembaban
Mycobacterium leprae dapat hidup selama tujuh hingga sembilan hari pada kelembaban 77,6%. Individu yang tinggal di suatu tempat dengan kelembaban yang tidak memadai berisiko terkena penyakit menular seperti kusta.
Namun, perlu diketahui bahwa kelembaban tidak selalu menyebabkan risiko kusta karena risiko kusta banyak dipengaruhi faktor-faktor lainnya.
3. Keberadaan Ventilasi
Ventilasi dapat menjaga rumah agar tetap segar karena aliran udara yang keluar dan masuk menjadi optimal. Selain itu, ventilasi yang memadai dapat mencegah perkembangbiakan bakteri Mycobacterium leprae
4. Penerangan Rumah
Akses cahaya yang cukup berperan untuk mengoptimalkan penerangan rumah yang terbukti dapat menghilangkan bakteri patogen di dalam rumah, seperti tuberkulosis (TBC) dan Mycobacterium leprae
5. Jenis Lantai
Jenis lantai yang tidak kedap air dapat meningkatkan kelembaban yang nantinya dapat memunculkan media bagi pertumbuhan bakteri Mycobacterium leprae dan dapat menyebar ke manusia.
6. Suhu
Tempat tinggal dengan suhu yang tidak memadai dapat memfasilitasi pertumbuhan bakteri Mycobacterium leprae
7. Jenis Dinding
Dinding yang kedap air, mudah dibersihkan, dan sesuai standar kesehatan sangat penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri Mycobacterium leprae seperti dinding berbahan beton atau batu bata.
Selain itu, pastikan dinding tidak rusak atau retak karena dapat mempengaruhi suhu dan kelembaban.
Demikian faktor-faktor penyebab penyakit kusta. Namun, apakah kusta benar-benar menular?
Menurut penelitian dari Hasbia dalam tesisnya yang berjudul “Kusta: Siapa Takut?” menerangkan bahwa penyakit kusta memang penyakit infeksi yang menular.
Namun, perlu diketahui bahwa Mycobacterium Leprae hanya dapat tertular jika adanya kontak langsung dengan penderita dalam waktu yang lama dan berulang.
Selain itu, bakteri tersebut dapat menular melalui pernapasan dengan masa inkubasi sekitar 2-5 tahun setelah masuk ke dalam tubuh.
Artinya, penyakit kusta dapat disembuhkan dan tidak menular dengan mudah hanya karena bersentuhan sesaat atau sekadar berdekatan dengan penderita kusta.
Tidak hanya itu, penyintas kusta yang sudah dinyatakan sembuh juga tidak memiliki risiko penularan sama sekali terhadap orang-orang di sekitarnya.
Penderita kusta tidak pantas untuk dijauhi maupun dianggap terkena kutukan Tuhan. Penyakit ini juga bukan merupakan penyakit keturunan. Dengan demikian, perlunya edukasi kepada masyarakat untuk bersikap lebih baik dan mencegah diskriminasi terhadap penderita penyakit kusta. (Salwa Hunafa)
Editor : Bahana.