Melansir dari Antara News, peneliti Insantara, Wildan Efendy, yang memberikan keterangan di Jakarta pada Selasa (24/2), menjelaskan bahwa penentuan kandidat didasarkan pada tiga faktor utama: popularitas, rekam jejak, serta hasil wawancara mendalam dengan pengurus hingga anggota NU.
Menurutnya, ke‑14 nama tersebut terbagi dalam empat klaster. Dua di antaranya adalah petahana Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Efendy menjelaskan, empat klaster tersebut meliputi internal PBNU yang diisi Gus Yahya, Mohammad Nuh, Syaifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa. Klaster PWNU mencakup Abdul Ghaffar Razin, Abdul Hakim Mahfudz, dan Juhadi Muhammad.
Klaster tokoh NU dan pesantren berisi Imam Jazuli, Abdussalam Shohib, Yusuf Chudlori, serta Marzuqi Mustamar.
Adapun klaster tokoh politik dan pemerintahan mencakup Cak Imin, Nusron Wahid, dan Nasaruddin Umar.
“Desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU, dan aspirasi warga NU menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nakhoda baru di tubuh PBNU,” ungkap Wildan, dilansir dari Antara News, Selasa (24/2).
Ia menyampaikan bahwa aspirasi pengurus wilayah, cabang, dan masyarakat kultural sangat besar agar untuk terpilihnya Ketum PBNU yang baru.
Sebelumnya, rapat pleno PBNU telah memutuskan bahwa Muktamar ke-35 NU akan dilaksanakan pada bulan Juli atau Agustus 2026.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.