Sidang dilaksanakan untuk membahas dampak ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah yang berpotensi mengganggu ketersediaan energi global, termasuk kemungkinan peningkatan harga minyak dunia akibat penutupan rute strategis Selat Hormuz.
Ketegangan konflik di kawasan itu, yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dinilai dapat menghambat alur logistik energi dunia.
Sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah global, atau setara dengan 20,1 juta barel per hari, melewati Selat Hormuz, termasuk pasokan yang memenuhi kebutuhan Indonesia.
Menteri Bahlil menyebutkan kondisi itu bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga berdampak pada stabilitas pasokan energi nasional.
Presiden Prabowo Subianto memberi arahan kepada pemerintah untuk berhati-hati dalam mengatur pasokan energi nasional agar tidak sampai terjadi kelangkaan maupun gangguan pelayanan energi kepada masyarakat.
"Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian kepada pelayanan kepada masyarakat kita," ungkap Bahlil, dikutip dari laman Kementerian ESDM.
Dalam penjelasannya, Bahlil menyebut pasokan energi (crude) untuk kebutuhan Indonesia yang melalui Selat Hormuz hanya sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional, atau setara dengan 25,36 juta barel.
Sisanya dipenuhi dari negara lain seperti Afrika, Amerika Serikat, dan Brazil yang tidak bergantung pada rute tersebut.
Sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko, pemerintah sedang mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah ke sumber pasokan yang lebih aman, termasuk Amerika Serikat.
Untuk komoditas Liquefied Petroleum Gas (LPG), yang kebutuhan nasionalnya mencapai 7,3-7,8 juta ton per tahun, alokasi impor dialihkan sebagian besar dari Amerika Serikat guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Sidang Anggota DEN ke-1 Tahun 2026 dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah, termasuk menteri sektor terkait serta delapan anggota DEN dari pemangku kepentingan. Rekomendasi dan keputusan yang dihasilkan diharapkan menjadi pedoman operasional cepat bagi kementerian dan lembaga dalam menjaga pasokan energi nasional agar tetap stabil di tengah ketidakpastian global.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.