Dilansir dari laman resmi BMKG, puncak kemarau pada Agustus diperkirakan terjadi di 429 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.
Sementara itu, sebagian wilayah lain diperkirakan mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli sekitar 12,6 persen ZOM, dan sebagian lagi pada September sekitar 14,3 persen ZOM.
BMKG juga memproyeksikan musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Sebanyak 451 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemarau dengan kondisi di bawah normal (lebih kering), sementara 245 ZOM atau 35,1 persen berada pada kondisi normal.
Hanya 3 ZOM atau sekitar 0,4 persen wilayah, terutama di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara, yang diprediksi mengalami kemarau lebih basah dari biasanya.
Selain itu, BMKG memperkirakan durasi musim kemarau pada sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan lebih panjang dari biasanya.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah, terutama pada wilayah yang sudah memasuki musim kemarau lebih awal.
Pada puncak kemarau Agustus, wilayah terdampak diperkirakan mencakup sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, serta sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Sementara pada September, kondisi kemarau masih berlanjut di beberapa wilayah seperti Sulawesi bagian utara dan timur serta sebagian wilayah Maluku.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan berbagai sektor terkait untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang lebih kering dan berpotensi lebih panjang, termasuk pada sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta mitigasi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.