Riset yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional, termasuk peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga puluhan Rp26 triliun.
Ketua Tim Peneliti Program MBG BRIN, Iwan Hermawan, mengatakan hasil simulasi penelitian menunjukkan program tersebut dapat meningkatkan tambahan PDB. Temuan tersebut dipaparkan dalam seminar hasil riset Program MBG di Jakarta, Rabu (4/3).
"Program MBG memberikan dampak makroekonomi yang positif dan terukur. Jadi, simulasinya menunjukkan peningkatan tambahan PDB itu sebesar Rp14,5-26 triliun," ungkap Iwan, dikutip dari ANTARA.
Menurut Iwan, peningkatan PDB tersebut berkaitan dengan naiknya aktivitas ekonomi melalui konsumsi rumah tangga dan investasi.
Dalam simulasi yang dilakukan tim peneliti, konsumsi agregat diperkirakan meningkat hingga 0,19 persen, sedangkan investasi meningkat sekitar 0,24 persen, dengan tekanan inflasi yang tetap relatif terkendali.
Ia menjelaskan, konsumsi dan investasi merupakan dua komponen utama penyumbang PDB. Oleh karena itu, kenaikan pada kedua sektor tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
"Kenapa harus konsumsi dan investasi? Karena di komposisi PDB dua itu yang punya proporsi yang besar, jadi kalau mereka meningkat dan nilainya besar dan akan mendorong PDB. Apalagi nanti 2029 (ditargetkan pertumbuhan) mau 8 persen, jadi harusnya sih ini sejalan untuk ke sana, dengan tingkat inflasi yang relatif terkendali," ujar Iwan.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dampak ekonomi dari program MBG tidak hanya terjadi pada sisi konsumsi, tetapi juga pada sektor produksi dan tenaga kerja.
Peningkatan produksi diperkirakan terjadi pada berbagai komoditas pangan seperti beras, produk olahan daging, susu, serta komoditas hortikultura.
Di sisi lain, program ini juga berpotensi meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga sekitar 0,19 persen di sektor pangan dan industri pengolahan.
Riset MBG yang dilakukan BRIN sepanjang 2025 itu menggunakan sejumlah pendekatan analisis, antara lain Computable General Equilibrium (CGE), Structural Equation Modelling (SEM), pendekatan Institutional Analysis and Development (IAD), serta Importance Performance Analysis (IPA). Studi tersebut melibatkan 855 responden dari wilayah penelitian di Provinsi Bangka Belitung dan Jawa Barat.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, BRIN merekomendasikan penguatan tata kelola program MBG, antara lain melalui pengembangan sistem dashboard nasional berbasis output dan outcome yang terintegrasi dengan standar gizi, keamanan pangan, distribusi, serta pengawasan program secara transparan dan real time.
"Keberlanjutan program ditentukan oleh kapasitas SDM dan komunikasi publik yang efektif, melalui pelatihan berkala, pelibatan komunitas, serta strategi komunikasi yang jelas dan membuka ruang umpan balik masyarakat." ujar Iwan Hermawan.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.