Analisis Pakar UMY Mengapa Ketegangan Iran-AS-Israel Tak Akan Memicu Perang Dunia III?
Magang Radar Purworejo• Jumat, 6 Maret 2026 | 05:50 WIB
Ilustrasi perang
YOGYAKARTA – Eskalasi ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel belakangan ini kembali memicu kekhawatiran global akan pecahnya konflik berskala besar. Namun, pakar Timur Tengah sekaligus Dosen Hubungan Internasional UMY, Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., menilai kekhawatiran akan terjadinya Perang Dunia III terlalu berlebihan.
Dalam wawancara di Ruang Simulasi Sidang HI UMY, Senin (2/3), Prof. Sidik menegaskan bahwa dinamika ini bukanlah awal dari kiamat geopolitik, melainkan bagian dari desain panjang hegemoni Amerika Serikat sebagai "polisi dunia".
Salah satu alasan utama mengapa konflik ini tidak akan meluas menjadi perang dunia adalah posisi geografis Amerika Serikat yang sangat aman. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang cemas karena kedekatan jarak dengan Timur Tengah, AS memiliki jarak strategis yang sangat jauh.
"Amerika sudah menghitung semua risiko. Secara geografis, mereka adalah negara yang paling aman. Tidak ada kekuatan besar yang mampu menyerang wilayah utamanya secara langsung," jelas Prof. Sidik.
Jarak ini memberi AS keleluasaan untuk bertindak agresif tanpa takut akan serangan balasan konvensional di tanah air mereka, sebuah kemewahan yang tidak dimiliki aktor global lainnya.
Prof. Sidik menganalogikan situasi ini seperti permainan catur politik yang sangat terukur. Perang Dunia III hanya mungkin terjadi jika dua kekuatan besar lainnya, Tiongkok dan Rusia, terlibat secara langsung dalam konfrontasi terbuka. Saat ini, kedua negara tersebut cenderung lebih memilih jalur diplomasi atau perang asimetris daripada terjun ke palagan militer terbuka yang merugikan ekonomi mereka.
"Ini adalah fase konsolidasi hegemoni, bukan awal perang besar. Semua langkah sudah diperhitungkan dengan matang di atas papan catur geopolitik," tambahnya.
3. Doktrin "Make America Great Again" dan Penegasan Batas
Di bawah kepemimpinan Donald Trump pada periode keduanya, kebijakan AS terhadap Iran harus dilihat melalui lensa domestik dan persaingan global dengan Tiongkok. Slogan “Make America Great Again” adalah refleksi dari kecemasan AS akan kebangkitan ekonomi Tiongkok.
Dalam logika ini, Iran diposisikan sebagai aktor yang harus "ditegaskan batasnya" agar tidak mengganggu dominasi AS di kawasan strategis. Tekanan terhadap Iran adalah pesan bagi dunia bahwa AS tetap menjadi pemegang kendali tunggal, terutama setelah berakhirnya era Perang Dingin yang menempatkan AS sebagai satu-satunya superpower.
4. Dampak Regional, Bukan Global
Meskipun tidak akan menjadi perang dunia, Prof. Sidik memperingatkan bahwa dampak jangka pendek tetap akan terasa signifikan, terutama bagi stabilitas di kawasan Teluk Persia. Gangguan pada jalur perdagangan dan distribusi energi global adalah risiko nyata yang akan menggoyang pasar dunia.
"Eskalasi ini lebih merupakan upaya AS untuk mengukuhkan kembali posisinya sebagai kekuatan terbesar dunia di tengah tantangan global, daripada sebuah undangan menuju perang semesta," pungkasnya.