Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Peneliti UGM: Meski Jogja Padat, Daya Beli Wisatawan Lebaran Tahun Ini Cenderung Lebih Rendah

Heru Pratomo • Kamis, 19 Maret 2026 | 05:50 WIB

Candi Prambanan
Candi Prambanan

 

Libur panjang Lebaran Idul Fitri 2026 diproyeksikan menjadi puncak pergerakan kunjungan wisatawan nusantara. Pergerakan ini ditandai dengan tingginya kunjungan ke destinasi-destinasi wisata lokal, dan membuka potensi sebaran ekonomi ke daerah. Pergerakan wisatawan nusantara ini diperkirakan akan dirasakan hampir di semua daerah di Indonesia.

Daerah Istimewa Yogyakarta dinilai masih menjadi destinasi wisata favorit untuk mereka yang mudik Lebaran. Mereka yang masuk ke daerah Jogjakarta bukan semata-mata pemudik, melainkan juga para wisatawan.

Hasil survei Kementerian Perhubungan menyatakan 8,2 juta orang diprediksi akan melakukan perjalanan di Yogyakarta selama periode libur Idul Fitri 2026. Angka ini mencerminkan mobilitas yang tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk DIY yang hanya 3,7-3,8 juta orang.

Baca Juga: Mulai 28 Maret, Medsos Anak Bakal Dibatasi: Khusus di Bawah 16 Tahun, Diskominfo DIY Siapkan Langkah Ini

Dr.Destha Titi Raharjana, S.Sos.M.Si, peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM menilai jumlah kunjungan wisatawan ke DIY sekitar 1,46 juta, dan Kota Jogja dan Sleman menjadi wilayah yang banyak dikunjungi.

“Tahun ini ada lonjakan yang diduga akibat akses jalan tol yang semakin mendekati pusat kota, jalur utara via Tempel dan jalur timur via Prambanan,” ucapnya di Kampus UGM, Selasa (17/3).

Destha memperkirakan puncak arus kedatangan H-5 sampai H-3 Lebaran, sedangkan puncak kunjungan wisata diprediksi sekitar 22 Maret 2026.Banyaknya kunjungan wisatwan ini, Destha mengingatkan soal isu lingkungan dan komitmen pariwisata yang bertanggung jawab.

Baca Juga: Kendaraan lewat Jalur Patuk Capai 201.606 Unit, Masih Didominasi Kendaraan Roda Dua

Menurutnya lonjakan 8,2 juta orang ini akan membawa konsekuensi beban lingkungan yang besar. Karena itu, ia menghimbau pengelola destinasi dan wisatawan untuk memperkuat komitmen DIY sebagai destinasi pariwisata bertanggung jawab.

“Jangan sampai euforia nostalgia di Jogja justru meninggalkan masalah sampah yang mencemari citra estetik Yogyakarta. Penting untuk diperhatikan terkait dampak lingkungan dari ledakan jumlah pengunjung ini. Kita sama-sama menjaga agar lonjakan kunjungan tidak meninggalkan lonjakan volume sampah di titik-titik keramaian,” pintanya.

Destha tidak menampik kenyataan DIY tetap menjadi magnet wisatawan selama libur panjang lebaran. DIY, dinilainya mampu menawarkan wisata alternatif yang dapat dijangkau wisatawan. Belum lagi dengan konektivitas transportasi yang semakin baik, utamanya keberadaan Tol Trans Jawa yang mempermudah akses mereka yang menggunakan mobilitas darat.

Baca Juga: DPR Dorong Wacana Pemotongan Gaji Pejabat Jadi Gerakan Disiplin Fiskal Nasional

Beberapa wilayah di DIY juga menawarkan kuliner dengan harga jual makanan dan minuman relatif masih terjangkau. “Jogja ini dikenal sebagai destinasi wisata murah. 

Jogja juga memiliki sejuta kenangan bagi mereka yang pernah menempuh pendidikan atau bekerja di kota ini. Libur Lebaran tentu menjadi salah satu momen untuk bernostalgia,” terangnya.Iapun memastikan beberapa lokasi dengan daya tarik konvensional, seperti Malioboro, Titik Nol, Tugu dan sekitarnya, Kraton, Tamansari dan beberapa wilayah pantai di Kabupaten Bantul masih akan ramai dikunjungi para wisatawan.

Bahkan beberapa area di Gunung Kidul yang akhir-akhir ini menawarkan ragam daya tarik instagrammable, diperkirakan akan menjadi tujuan kunjungan wisatawan.

Baca Juga: Pedagang Ini Sodorkan Sebungkus Bakso Yang Dibuat Khusus untuk Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Ini Alasannya

“Begitu pula dengan keberadaan kampung wisata dengan homestay termasuk juga desa-desa di wilayah Bantul, Sleman, dan Kulon Progo. Ini tentu berpeluang menerima kunjungan wisatawan, baik yang di daya tarik ataupun paket berkegiatan di desa wisata,” paparnya.

Meski mengalami lonjakan wisata yang cukup tinggi di DIY, Destha menduga tidak akan berdampak pada belanja wisatawan yang tinggi. Dari sisi perilaku ekonomi, ia bahkan menilai jika para wisatawan akan selektif dalam merogoh kantong.

Melihat situasi saat ini, ia berpandangan wisatawan nampaknya memiliki daya beli rendah.

Baca Juga: Hari Raya di Hari Jumat, Muhammadiyah: Utamakan Tetap Melaksanakan Salat Jumat

Dimungkinkan tidak sedikit dari para wisatawan akan memilih aktivitas wisata yang gratis, seperti memilih ruang publik dan menggunakan akomodasi seperti hotel budget atau homestay, serta melakukan kunjungan one-day trip.

“Intinya, wisatawan tahun ini nampaknya akan lebih selektif dalam berbelanja, meski ada juga beberapa yang tetap royal untuk belanja makan dan minum (kuliner), serta membeli oleh-oleh,” 

Editor : Heru Pratomo
#daya beli #Destha T Raharjana #UGM #libur panjang Idul fitri