JAKARTA – Penanggulangan bencana di Indonesia mulai memasuki babak baru dengan pemanfaatan teknologi Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) atau drone. Bukan sekadar alat dokumentasi, drone kini menjadi instrumen strategis yang memastikan keselamatan jiwa melalui akurasi data dan kecepatan respons di lapangan.
Dalam diskusi "Ngopi Bareng BNPB" bertajuk “Lompatan Teknologi Drone dalam Mitigasi dan Respons Bencana”, Kamis (9/4), terungkap bahwa transformasi digital menjadi harga mati bagi negara dengan risiko bencana tinggi seperti Indonesia.
Mata di Langit dan Robot di Darat Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Dr. Ir. Udrekh, S.E., M.Sc., menjelaskan bahwa drone kini bekerja sejak fase prabencana untuk memetakan topografi sebagai landasan kajian risiko. Namun, inovasi tidak berhenti di udara saja.
"Teknologi PUTA saat ini tidak hanya terbatas di udara, tetapi juga merambah ke daratan dalam bentuk robot berkaki empat guna menjangkau medan yang sulit diakses manusia," ungkap Udrekh.
Krusial di Periode Golden Time Bagi BASARNAS, penggunaan drone thermal menjadi kunci utama dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR), terutama saat menghadapi keterbatasan visual.
Direktur Operasi dan Siaga BASARNAS, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, N.S, M.TR. OPSLA, menegaskan betapa vitalnya peran alat ini.
“Drone sangat membantu dalam penanganan pertolongan ketika tim Basarnas bekerja di periode golden time, terutama mendampingi dalam pelacakan korban. Selain itu, data dari drone digunakan untuk strategi operasi penyelamatan," tegas Yudhi.
Yudhi menceritakan pengalaman nyata saat menangani longsor Cisarua pada Januari 2026 lalu. Berkat drone, tim bisa mengetahui ancaman susulan yang tidak terlihat dari bawah.
"Dari data hasil pemantauan wilayah terdampak, diketahui bahwa masih ada pergerakan tanah di wilayah hulu yang menimbulkan risiko bagi tim penyelamat," tambahnya.
Baca Juga: Bantu Sarana Distribusi Produk Desa, Truk KDMP Disalurkan Bertahap: Target 60 Unit Pekan Ini
Menembus Keterbatasan dengan LiDAR Meski canggih, drone tetap memiliki tantangan. Sensor thermal sering kali kesulitan mendeteksi korban yang sudah tertimbun tanah dalam waktu lama karena suhu tubuh yang mendingin. Menanggapi hal itu, Managing Director Halo Indah Permai (DJI), Johannes Soekidi, memperkenalkan teknologi LiDAR sebagai solusi masa depan.
“Teknologi ini menjadi solusi karena mampu memetakan objek bahkan dalam kondisi gelap total, sehingga perubahan di lapangan dapat terpantau secara akurat,” jelas Johannes.
Ia juga menyoroti perkembangan heavy lift drone yang kini mampu mengangkut logistik hingga 100 kg di udara, serta Remotely Operated Vehicle (ROV) yang mampu menyelam hingga kedalaman 350 meter.
Harapan Peningkatan SDM Daerah Menutup diskusi, BNPB menekankan bahwa secanggih apa pun teknologinya, faktor manusia tetap menjadi penentu. Selain koordinasi pembagian Area of Interest (AoI) untuk kepatuhan izin terbang, peningkatan kualitas operator di daerah menjadi prioritas.
Diharapkan, dengan peningkatan SDM di daerah, pemetaan dampak bencana dapat dilakukan secara mandiri dan cepat, sehingga evaluasi serta rencana aksi penyelamatan tidak lagi mengalami hambatan waktu.
Editor : Heru Pratomo