YOGYAKARTA – Gejolak geopolitik global dan perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan nasional. Menanggapi hal tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) tengah memperkuat industri peternakan guna menjamin ketersediaan sumber protein hewani seperti daging, telur, dan susu, terutama untuk mendukung kesuksesan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Prof. Ali Agus, menyampaikan bahwa investasi di bidang industri peternakan unggas harus terus ditingkatkan. Hal itu ia sampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk "Outlook Perunggasan 2026-2027" di Auditorium Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Rabu (22/4).
Strategi Pemerataan dan Logistik
Meski sektor perunggasan Indonesia dinilai salah satu yang terbaik dalam stabilitas harga, Ali Agus menyoroti ketimpangan distribusi di mana 63% pasokan masih terpusat di Pulau Jawa.
"Ke depan, setiap pulau harus mandiri protein hewani. Kami memperkuat ekosistem melalui Perpres dan Inpres tahun 2026 untuk membangun gudang penyimpanan (cold storage) serta fasilitas pengeringan jagung agar harga pakan terkendali dan meminimalisir risiko gangguan logistik," terangnya.
Infrastruktur Strategis dan Dampak MBG
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia, Ir. Achmad Dawami, menekankan bahwa ayam dan telur adalah infrastruktur strategis bangsa, mengingat 2/3 konsumsi protein masyarakat berasal dari unggas. Namun, ia memperingatkan adanya risiko ketidakseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand).
Baca Juga: Jangan Asal Seruput, Ini Cara Bijak Konsumsi Kopi agar Bermanfaat bagi Kesehatan
Potensi lonjakan permintaan ini juga dikonfirmasi oleh Ketua Umum Pinsar, Singgih Januratmoko. Ia memprediksi program Makan Bergizi Gratis akan meningkatkan permintaan daging ayam hingga 40.000 ton per bulan.
"Program ini mendorong siswa mengonsumsi protein sejak dini, namun pemerintah perlu merevisi regulasi untuk mengatur ulang posisi peternakan rakyat dan kemitraan agar lebih adil, mengingat biaya produksi yang semakin mahal," ujar Singgih.
Tantangan Regenerasi dan Kesehatan Hewan
Baca Juga: Temui Joko Widodo di Solo, KPPU Minta Dukungan Percepatan Amandemen UU Persaingan Usaha
Selain masalah harga, industri unggas menghadapi krisis regenerasi. Generasi muda saat ini dinilai lebih tertarik pada sektor keuangan ketimbang mengelola kandang. Singgih mendorong adanya adopsi teknologi dan kebijakan harga yang lebih melindungi peternak rakyat.
Dari sisi teknis, Guru Besar FKH UGM, Prof. Michael Haryadi Wibowo, menyoroti pentingnya manajemen pullet (ayam remaja) dan biosekuriti. Ia menekankan bahwa peternak kecil harus dibekali Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat untuk mencegah wabah penyakit.
"Vaksinasi rutin untuk Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), hingga Avian Influenza (AI) adalah harga mati untuk mencegah kematian massal yang bisa melumpuhkan industri," tegas Prof. Michael.
Editor : Heru PratomoSumber : ugm.ac.id