SURABAYA – Di tengah kecamuk perang yang melanda kawasan Timur Tengah, pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1447 H dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menyiapkan skenario rute penerbangan alternatif guna menjamin keamanan jemaah.
Hal tersebut disampaikan oleh Penasihat Presiden Bidang Haji sekaligus Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Jumat (17/4).
“Haji alhamdulillah sudah berjalan ini. Intinya insyaallah berjalan seperti biasa,” ujar Muhadjir mengawali keterangannya.
Skenario Pengalihan Rute
Meski ruang udara Timur Tengah terdampak ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, Muhadjir menegaskan pemerintah telah bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. Salah satu poin krusial yang disiapkan adalah perubahan jalur penerbangan.
Jika rute normal melewati langit Oman dinilai berisiko, maka penerbangan jemaah haji akan dialihkan memutar. “Rute akan digeser ke Afrika Timur, kemudian memutar melewati Laut Merah sebelum menuju Jeddah/Masjidil Haram. Jika skenario ini diambil, akan ada tambahan waktu terbang sekitar dua jam dan kemungkinan diperlukan tempat transit,” ungkapnya.
Baca Juga: Jangan Asal Seruput, Ini Cara Bijak Konsumsi Kopi agar Bermanfaat bagi Kesehatan
Anggaran Membengkak Rp 1,7 Triliun
Muhadjir tidak menampik bahwa penggunaan rute alternatif dan perubahan kondisi geopolitik akan memicu pembengkakan biaya operasional, terutama pada sektor bahan bakar pesawat (avtur).
Pemerintah memperkirakan adanya tambahan biaya mencapai Rp 1,7 triliun. Namun, ia menegaskan bahwa jemaah haji tidak perlu khawatir karena beban biaya tambahan tersebut tidak akan dibebankan kepada mereka.
“Pak Prabowo sudah meminta, kenaikan biaya akibat kebutuhan avtur ini tidak boleh memberi beban tambahan kepada jemaah. Semuanya sudah diakomodasi oleh pemerintah,” tutur Muhadjir.
Dengan persiapan matang ini, pemerintah berharap seluruh tahapan ibadah haji tahun 1447 H dapat berlangsung aman, nyaman, dan tetap khusyuk meski di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Editor : Heru Pratomo