Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Terapi Laser Sejak Dini: Kunci Keberhasilan Penanganan Port Wine Stain pada Bayi

Heru Pratomo • Minggu, 17 Mei 2026 | 10:11 WIB
Anggota DPRD Jember Achmad Syahri As Siddiqi
Anggota DPRD Jember Achmad Syahri As Siddiqi

 

RADAR PURWOREJO– Wajah anggota DPRD Jember Achmad Syahri As Siddiqi yang viral karena merokok dan bermain game, menjadi pembicaraan.

Hal itu diketahui merupakan kelainan vaskular bawaan lahir Port Wine Stain (PWS) atau Nevus Flammeus kini dapat dikelola secara efektif melalui terapi laser sedini mungkin. 

Infografis panduan lengkap dari dr. Agung M. Rheza, SpDVE, menjelaskan bahwa penanganan pada usia ideal di bawah satu tahun memberikan hasil klinis yang jauh lebih baik.

Mengenal Port Wine Stain dan Risikonya
PWS merupakan bercak kemerahan hingga keunguan pada kulit akibat pelebaran pembuluh darah kapiler di dermis superfisial. Kondisi ini muncul sejak lahir akibat mutasi somatik pasca-zigot pada gen GNAQ.

Baca Juga: Honda Premium Matic Day Sapa Konsumen Setia Honda

 

Bercak ini umumnya menebal dan menggelap seiring bertambahnya usia, serta sering kali muncul di area wajah mengikuti jalur saraf trigeminal (V1, V2, V3).

Jika muncul di area V1 (mata dan dahi), PWS berisiko memicu komplikasi serius seperti glaukoma. Kondisi ini juga kerap dikaitkan dengan sindrom langka seperti Sturge-Weber Syndrome dan Klippel-Trenaunay Syndrome.

Pulsed Dye Laser Sebagai Terapi Utama
Pulsed Dye Laser (PDL) dengan panjang gelombang 585–595 nm menjadi standar emas terapi laser vaskular saat ini.

Baca Juga: Kecombrang Bukan Sekadar Bunga yang Eksotis, Tapi Si Merah Cantik Penjaga Kesehatan dari Lantai Hutan Tropis

Pengobatan ini bekerja melalui mekanisme fototermolisis selektif yang menargetkan oksihemoglobin untuk menggumpalkan pembuluh darah abnormal.

Proses terapi memerlukan komitmen jangka panjang dengan ketentuan:
Jumlah Sesi: Berkisar antara 5 hingga 12 sesi, tergantung pada respons kulit pasien.
Interval: Dilakukan secara berkala setiap 4–8 minggu.

Efek Samping: Bersifat sementara, seperti kemerahan (eritema), bengkak (edema), purpura, hingga bekas luka tipis.

Baca Juga: Tolak MBG Masuk Kampus? Sikap UMY: Dukung Program Nasional Lewat Sumber Daya Manusia, Bukan Bangun Dapur

Manajemen Pasca-Terapi dan Harapan Realistis

Perawatan setelah tindakan memegang peran krusial untuk mencegah komplikasi sekunder. Pasien diwajibkan melakukan kompres dingin, mengoleskan krim pelembap, menggunakan tabir surya minimal SPF 30, serta menghindari paparan matahari langsung.

Pasien dan keluarga diimbau memiliki harapan yang realistis. Terapi laser umumnya tidak menghilangkan bercak 100%, tetapi mampu memudarkannya secara signifikan demi meningkatkan kualitas hidup dan mencegah dampak psikososial.

Jika mendeteksi lesi yang meluas di wajah atau mencurigai adanya sindrom terkait, segera konsultasikan ke tim multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis dermatologi, oftalmologi, dan neurologi.

 

Editor : Heru Pratomo
#port wine stain #anggota DPRD Jember #Achmad Syahri As Siddiqi #kelainan vaskular #bawaan lahir