Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

BPOM Tegaskan Peraturan BPOM No.5 Tahun 2026 Bukan Soal Penempatan Apoteker, Melainkan Penguatan Pengawasan Obat Nasional

Heru Pratomo • Rabu, 3 Juni 2026 | 22:44 WIB
Wimbuh Dumadi, S.Si.,M.H. (Ketua Dewas PD IAI D.I. Yogyakarta), Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si. (Dekan Fakultas Farmasi UGM) dan dr. William Adi Teja, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM-RI dalam acara Forum Group Discussion (FGD) yang di selenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (02/06).
Wimbuh Dumadi, S.Si.,M.H. (Ketua Dewas PD IAI D.I. Yogyakarta), Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si. (Dekan Fakultas Farmasi UGM) dan dr. William Adi Teja, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM-RI dalam acara Forum Group Discussion (FGD) yang di selenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (02/06).

 

JOGJA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa Peraturan BPOM Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pengawasan Pengelolaan Obat dan Bahan Obat di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian dan Fasilitas Lain diterbitkan untuk memperkuat sistem pengawasan obat nasional sekaligus meningkatkan perlindungan masyarakat.

Penegasan tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekusor dan Zat Adiktif BPOM RI, dr Wiliam Adi Teja menjelaskan bahwa regulasi tersebut bukan mengatur kewajiban penempatan Apoteker di setiap minimarket atau supermarket, melainkan memastikan seluruh proses pengelolaan obat dilakukan sesuai standar dan berada dalam pengawasan tenaga kefarmasian.

Baca Juga: Pemkab Magelang Bidik Kontributor Nyata Pembangunan melalui Bupati Awards 2026

 Menurut William, sesuai arahan serta penyampaian Kepala BPOM, Prof. dr Taruna Ikrar, bahwa keberadaan obat bebas dan obat bebas terbatas di sejumlah hypermarket, supermarket dan minimarket merupakan fenomena yang telah berlangsung lama sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan masyarakat.  

Namun sebelum terbitnya PerBPOM 5/2026, BPOM memiliki keterbatasan dalam memberikan sanksi administratif kepada fasilitas non-kefarmasian yang melakukan pelanggaran. Dengan adanya regulasi baru ini, BPOM dapat melakukan pembinaan dan penegakan hukum administratif secara lebih efektif tanpa harus selalu mengedepankan pendekatan pidana.  

Baca Juga: Buruh di Sragen Dibegal Lima Pemuda secara Sadis, Kepala Diinjak dan Dagu Disayat Karambit

Dalam forum tersebut, William juga meluruskan sejumlah informasi yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahwa tidak semua hypermartket, supermarket dan minimarket dapat menjual obat bebas maupun obat bebas terbatas. Hanya jaringan ritel yang telah memenuhi persyaratan pengawasan tenaga kefarmasian yang diperbolehkan melakukan pengelolaan dan penjualan obat sesuai ketentuan yang berlaku.  

Untuk jaringan ritel modern berskala besar, pengadaan obat wajib berada dibawa supervisi apoteker yang bertugas pada distribution center. Sementara itu minimarket atau supermartkot yang berdiri sendiri (stand alone) harus mendapatkan pengampuan dari tenaga teknis kefarmasian melalui toko obat yang memenuhi persyaratan regulasi.  

Baca Juga: Wisata Menikmati Wahana Air, Waterboom Jogja Jamu Promo Tiket Masuk Khusus Mahasiswa dan Pelajar Lokal

William menegaskan bahwa setap pengadaan obat wajib melalui Mekanisme pengawasan tenga kefarmasian. Tanpa persetujuan dan dokumentasi yang sah dari tenaga kefarmasian yang bertanggung jawab, pengadaan obat tidak dapat dilakukan dan tidak akan dilayani oleh perusahaan farmasi maupun distributor resmi.

Ketentuan ini merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan rantai distribusi obat hingga sampai ke tangan masyarakat. PerBpom 5/2026 juga dinilai memberikan kepastian hukum bagi pemerintah daerah, pelaku usaha ritel, tenaga kefarmasian serta masyarakat sebagai konsumen.

Baca Juga: Buruh di Sragen Dibegal Lima Pemuda secara Sadis, Kepala Diinjak dan Dagu Disayat Karambit

Regulasi tersebut menghadirkan instrumen pengawasan yang lebih proporsional melalui pembinaan, penagawasan administratif dan penguatan tata kelola distribusi obat yang bertanggung jawab.  Melalui kebijakan ini, BPOM menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh obat yang beredar di Indonesia tetap memenuhi aspek mutu, keamanan dan khasiat.

Di saat yang sama, BPOM berupaya menciptakan keseimbangan antara kemudahan akses masyarakat terhadap obat bebas dan perlindungan kesehatan publik melalui pengawasan yang lebih kuat dan terukur.  

Editor : Heru Pratomo
#zat adiktif #taruna ikrar #apoteker #fgd #bpom