Video konvoi bertajuk “Boti Hunter” tengah menjadi sorotan di media sosial. Rekaman yang diunggah akun Instagram @robbytanziilal_ itu memperlihatkan sekelompok anggota komunitas sepeda @psyclosocial berkonvoi menggunakan sepeda sambil membawa bendera dan spanduk bertuliskan “Boti Hunter” dan “Lindas Boti”. Tak butuh waktu lama, video tersebut menyebar luas dan memancing berbagai respons dari warganet.
Dalam video itu, para peserta konvoi terlihat melintas secara berkelompok di Jalan Lintas Barat Sumatera, Kabupaten Pringsewu, Lampung pada malam hari. Mereka membawa atribut bertuliskan “Boti Hunter” sembari meneriakkan slogan penolakan terhadap LGBT.
Istilah “Boti” sendiri merupakan bahasa gaul yang kerap digunakan untuk menyebut laki-laki dengan penampilan atau perilaku yang dianggap feminin. Sementara itu, nama “Boti Hunter” dipahami sebagai sebutan bagi kelompok yang menyatakan sikap menolak keberadaan LGBT.
Viralnya video tersebut muncul di tengah menguatnya perbincangan mengenai isu LGBT di Indonesia. Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengusulkan agar perilaku LGBT dimasukkan sebagai tindak pidana dalam pembaruan regulasi hukum. Usulan itu memicu pro dan kontra di tengah masyarakat.
Baca Juga: Rekonstruksi Kasus Taufik Hidayat Ungkap Fakta Baru, Polisi Beberkan Soal Tato hingga Luka Korban
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto juga telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025-2029. Dalam lampiran peraturan tersebut, pemerintah memasukkan penyebaran budaya Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) sebagai salah satu bentuk ancaman nonmiliter di bidang sosial dan budaya. Kebijakan itu kemudian ikut menjadi bahan diskusi publik terkait sikap negara terhadap isu LGBT.
Di media sosial, kemunculan video “Boti Hunter” memunculkan beragam tanggapan. Sebagian warganet menyatakan dukungan terhadap aksi tersebut karena dianggap sebagai bentuk penyampaian sikap atas isu LGBT. Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik aksi itu lantaran dinilai berpotensi memicu diskriminasi, perundungan, hingga tindakan main hakim sendiri terhadap kelompok tertentu.
Sejumlah pengguna media sosial juga mengingatkan agar perbedaan pandangan mengenai isu LGBT tidak diwujudkan melalui tindakan yang melanggar hukum. Mereka menilai penyampaian pendapat tetap harus dilakukan secara damai dan tidak mengarah pada intimidasi maupun kekerasan terhadap siapapun.
Sampai saat ini, belum ada keterangan resmi dari aparat maupun pihak terkait mengenai lokasi dan penyelenggara konvoi “Boti Hunter” yang videonya viral di media sosial. Meski demikian, perbincangan mengenai aksi tersebut masih terus bergulir dan menjadi salah satu topik yang ramai dibahas.