Ironi Hukum dan Keadilan: Saat Ketegasan 'Tumpul' ke Atas dan Menyiksa Rakyat Kecil

Tita Aurelia Pitaloka • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 11:30 WIB
Lambang Hukum & Keadilan (Sumber: Pixabay)
Lambang Hukum & Keadilan (Sumber: Pixabay)

Publik kembali disuguhkan dengan sederet peristiwa ironis yang memicu keprihatinan luas. Dari tindakan main hakim sendiri terhadap rakyat kecil, dugaan intimidasi oleh aparat, hingga kematian misterius saksi kunci, serangkaian kejadian belakangan ini seolah menjadi cermin retak penegakan hukum dan norma sosial di Indonesia.

1. Maut di Tangan Massa Demi Seekor Ayam

Di Tabanan, Bali, nasib tragis menimpa seorang ayah. Ia tewas setelah dihakimi massa akibat kepergok mencuri seekor ayam aduan. Peristiwa ini memantik keprihatinan mendalam—ketika tindakan main hakim sendiri (vigilante) masih menjadi pilihan sebagian warga untuk menyelesaikan tindak pidana kecil (petty crime), tanpa ruang bagi proses hukum formal.

2. Niat Baik Berbuah Petaka: Satpam Waduk Jatiluhur Ditemukan Terborgol

Kasus tak kalah memprihatinkan terjadi di Waduk Jatiluhur. Seorang petugas keamanan ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terborgol. Peristiwa ini diduga bermula saat korban menegur sekelompok remaja—yang diketahui masih duduk di bangku SMP—saat hendak melakukan aksi vandalisme. Sungguh ironis ketika upaya menjaga ketertiban umum justru dibayar mahal dengan nyawa oleh pelaku yang masih di bawah umur.

Baca Juga: Usulan Perpanjangan Prameks hingga Gombong Dapat Respons Positif, Namun Masih Tunggu Kajian Teknis

3. Menegur Mobil Mewah, Satpam Bundaran HI Malah Dipaksa Sujud

Sensitivitas publik kembali diuji lewat aksi intimidasi di pusat ibu kota. Seorang satpam di kawasan Bundaran HI, Jakarta, diintimidasi hingga dipaksa sujud usai menegur pengemudi mobil mewah Alphard yang menerobos lampu penyeberangan jalan. Mirisnya, pengemudi kendaraan tersebut diketahui merupakan seorang oknum polisi. Kejadian ini memperlihatkan secara telanjang bagaimana relasi kuasa dan penyalahgunaan wewenang masih membayangi ruang publik kita.

4. Kematian Misterius Penjaga Rumah Mantan Jampidsus

Misteri besar kini menyelimuti kasus kematian Sutrimo, pria yang diduga bekerja sebagai penjaga rumah mantan Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah. Sutrimo ditemukan tewas pada Kamis pagi dengan kondisi mulut berbusa. Kematian yang terkesan mendadak ini menyisakan banyak pertanyaan besar di tengah publik terkait keselamatan saksi maupun orang-orang terdekat yang berada di lingkar kasus-kasus sensitif.

5. Sorotan 'Perlakuan Khusus' Penahanan Febrie

Dugaan ketimpangan hukum makin menguat ketika proses penahanan Febrie mendulang kritik tajam dari publik. Sorotan muncul lantaran tersangka tidak mengenakan rompi tahanan saat digiring petugas. Pihak berwenang beralasan hal itu terjadi karena proses administrasi dilakukan terburu-buru pada malam hari. Namun, penjelasan tersebut justru makin menyulut persepsi publik mengenai adanya "perlakuan khusus" bagi figur berkekuasaan.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Kabupaten Sukoharjo Mengganas, Sebulan 30 Kejadian

Peristiwa-peristiwa di atas membawa pesan yang sangat terang: penegakan hukum yang adil, transparan, dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) harus menjadi prioritas mutlak. Jika ketimpangan rasa keadilan dan aksi main hakim sendiri terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap negara hukum akan terkikis habis. (Tita Aurelia Pitaloka)

Editor : Bahana.
hukum indonesia persoalan hukum