Karhutla Kalimantan dan Sumatra Meluas, Ini Daerah dengan Titik Panas Tertinggi!

Yunita Tri Hastuti • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:31 WIB
Petugas yang tengah berusaha memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (Dok Antara)
Petugas yang tengah berusaha memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (Dok Antara)

 

RADAR JOGJA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Bencana ini masih menjadi permasalahan genting dan api belum sepenuhnya padam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada Minggu (30/8/2026).

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi jumlah hotspot di Kalimantan Barat naik menjadi 453 titik.

Namun, jumlah titik api di provinsi tersebut justru berkurang.

Baca Juga: Dari Pendidikan hingga Layanan Sosial, Muhammadiyah Siap Pererat Kolaborasi dengan PBNU

"Yang tadinya 23 titik, sekarang menjadi 16. Kita berharap hal serupa terjadi di provinsi lain," ujar Berton dalam konferensi pers daring, Minggu (30/8/2026).

Jumlah Hotspot di Kalimantan Tengah Tembus 876 Titik

Kondisi berbeda terjadi di beberapa wilayah Kalimantan lainnya.

BNPB mencatat titik api di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mengalami penurunan.

Namun, hotspot di Kalimantan Tengah melonjak hingga 876 titik.

Sebaliknya, hotspot di Kalimantan Selatan turun signifikan sebanyak 279 titik, dengan jarak pandang relatif rendah berkisar 1–1,5 kilometer.

Baca Juga: Gusti Sura Kakak Gusti Bhre Akan Menikah November 2026, Siapa Pria yang Beruntung Itu?

Kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah tersebut kini menjadi perhatian utama dalam pemantauan karhutla.

Karhutla di Pulau Sumatra Masih Dipantau

Di luar Kalimantan, BNPB memantau situasi karhutla di Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi.

Di Riau, hotspot berkurang satu titik, tetapi titik api bertambah lima menjadi 12 titik dengan jarak pandang lima kilometer.

"Di Riau, kami mencatat penurunan 1 titik panas dan peningkatan 5 titik api menjadi 12 titik api, dengan jarak pandang hanya 5 kilometer," jelas Berton dikutip dari Pontianak Pos.

Baca Juga: Bupati Siak Murka Saat Tinjau Lokasi Karhutla dan Temukan Pohon Sengaja Ditebang Menggunakan Gergaji


Hotspot di Sumatra Selatan Menurun

Di Sumatra Selatan, jumlah hotspot turun signifikan menjadi 804 titik, meski titik api justru bertambah 8 menjadi 18 titik dengan jarak pandang sekitar 2,4 kilometer.

Sementara itu, Jambi mencatat 135 titik panas tanpa perubahan jumlah titik api, dengan jarak pandang 3,5 kilometer.

Masyarakat Diimbau Pantau Kualitas Udara

Menanggapi dampak karhutla yang meluas, BNPB mengimbau masyarakat tidak hanya memantau titik panas dan titik api, tetapi juga memperhatikan kualitas udara di wilayah masing-masing.


Informasi terperinci mengenai karhutla dapat diakses melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi).

Baca Juga: Lempari Rumah Warga Pakai Batu, Pria ODGJ di Prambanan Dievakuasi ke RSJ Klaten

Kualitas udara dapat dipantau lewat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup.

Berton menekankan pentingnya informasi ini agar masyarakat mengetahui kategori kondisi udara, mulai dari sehat, tidak sehat, hingga berbahaya.

Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

BNPB imbau masyarakat menyesuaikan aktivitas dengan kualitas udara dan membatasi kegiatan di luar ruangan saat udara tidak sehat atau berbahaya.

"Kami menyarankan agar aktivitas di luar rumah dikurangi. Jika harus keluar, gunakan masker," pungkas Berton.

Kualitas Udara Pontianak Masuk Kategori Berbahaya

Data resmi AQMS Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Stasiun Pontianak Tenggara mencatat ISPU PM2,5 mencapai angka 715 pada 30 Agustus 2026 pukul 01.00 WIB.

Baca Juga: Disangka Rp 99 Ribu, Mahasiswa Kalap Pesan Menu King Kepiting Alaska Ternyata Salah Baca Harga

Parameter PM2,5 menjadi indikator kritis. Dalam kurun 24 jam, nilai ISPU PM2,5 mencatatkan angka maksimum 720, minimum 348, dan rata-rata 568.

Angka ini menunjukkan pencemaran udara di Pontianak Tenggara berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
karhutla Karhutla Kalimantan dan Sumatra Meluas Titik Panas Tertinggi badan nasional penanggulangan bencana