Karhutla Sumatra-Kalimantan Ancam Satwa Liar, Habitat Hancur hingga Orangutan Ditemukan Terkapar

Perawati • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:17 WIB
Tim BKSDA Kalbar dan YIARI menemukan seekor orangutan jantan dewasa yang tak berdaya usai menghirup asap karhutla. (Dok. ANTARA)
Tim BKSDA Kalbar dan YIARI menemukan seekor orangutan jantan dewasa yang tak berdaya usai menghirup asap karhutla. (Dok. ANTARA)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan tidak hanya menimbulkan persoalan asap dan kerusakan lingkungan. Bencana tersebut juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan satwa liar yang menggantungkan hidup pada ekosistem hutan.

Kebakaran dapat menghancurkan vegetasi dalam waktu singkat. Dampaknya merembet pada hilangnya habitat, sumber makanan, hingga ketersediaan air yang menjadi kebutuhan utama satwa, termasuk spesies endemik dan langka.

Berulangnya karhutla dari tahun ke tahun juga menunjukkan kuatnya tekanan aktivitas manusia terhadap kawasan hutan dan lahan. Pola kebakaran yang terus muncul menjadi indikasi bahwa langkah pencegahan dan pengawasan belum berjalan secara optimal.

Respons pemerintah maupun masyarakat terhadap karhutla kerap meningkat setelah kebakaran telanjur meluas. Ketika asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas udara memburuk, penanganan biasanya baru dilakukan secara lebih masif.

Baca Juga: Pria Tewas di Gardu LRT Pancoran Jaksel, Diduga Tersengat Arus Listrik

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman dan pemulihan menjadi semakin kompleks. Api yang telah menyebar luas juga menyebabkan kerusakan terhadap ekosistem di sekitarnya menjadi lebih besar.

Karhutla dapat melanda berbagai tipe kawasan, mulai dari perkebunan, hutan sekunder, hingga hutan primer yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa.

Orangutan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, hingga tapir merupakan sejumlah satwa yang dapat terdampak ketika habitatnya terbakar atau rusak.

Kerusakan habitat akibat karhutla menjadi persoalan serius bagi keanekaragaman hayati. Hilangnya vegetasi dan sumber pangan dapat mengganggu fungsi ekosistem yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Gambaran dampak tersebut terlihat dari ditemukannya seekor orangutan jantan dewasa di area perkebunan sawit milik warga di Desa Laman Satong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Orangutan yang kemudian diberi nama Sampurna tersebut ditemukan dalam kondisi lemas hingga tidak sadarkan diri. Saat ditemukan, mulutnya bahkan dipenuhi tanah.

Sampurna diduga kuat terdampak paparan asap pekat akibat karhutla yang merusak habitat aslinya.

Kondisi seperti yang dialami Sampurna berpotensi terjadi pada satwa liar lain yang kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan.

Ketika habitatnya terbakar, satwa dapat mengalami kelaparan, kepanikan, dan kehilangan ruang untuk bertahan hidup. Dalam kondisi tersebut, mereka berpotensi keluar dari kawasan konservasi dan memasuki wilayah yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Perkebunan maupun permukiman warga dapat menjadi lokasi yang dituju satwa untuk mencari makanan, air, atau tempat berlindung.

Baca Juga: Sungai Kapuas Mengering, Tampilkan Hamparan Pasir Seperti Pesisir Pantai

Kondisi tersebut tidak hanya membahayakan satwa, tetapi juga dapat meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.

Dampak karhutla terhadap satwa liar tidak berakhir ketika api berhasil dipadamkan.

Pemulihan ekosistem pascakebakaran membutuhkan waktu panjang. Munculnya kembali vegetasi hijau di kawasan yang sebelumnya terbakar belum dapat menjadi indikator bahwa ekosistem telah pulih sepenuhnya.

Habitat satwa membutuhkan keberadaan berbagai jenis tumbuhan, sumber air, serta organisme lain yang membentuk rantai dan jaring makanan.

Ketika satu bagian ekosistem hilang, proses untuk membangun kembali keseimbangan tersebut tidak dapat berlangsung dalam waktu singkat.

Pemulihan rantai dan jaring makanan bahkan dapat membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun dan tidak selalu dapat mengembalikan ekosistem ke kondisi sebelum kebakaran.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan, perlindungan habitat, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta pemulihan ekosistem perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Genap 2 Tahun, Pasar Jongke Surakarta Bagikan 1.300 Porsi Mie Ayam Gratis

Jika pola kebakaran terus berulang, ancaman terhadap satwa liar dan keanekaragaman hayati di Sumatra serta Kalimantan akan semakin besar.

Editor : Bahana.
satwa liar karhutla Keanekaragaman Hayati kalimantan Sumatra