RADAR PURWOREJO - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi masalah yang tak kunjung selesai di pulau Kalimantan.
Hingga saat ini, jumlah hutan dan lahan yang terbakar di Kalimantan sudah mencapai ribuan hektar.
Karhutla juga memberikan dampak buruk yang sangat signifikan terhadap kelangsungan hidup di sekitar.
Dari mulai asap karhutla yang tidak aman untuk dihirup manusia, satwa liar yang kehilangan tempat tinggal dan mati perlahan, berbagai kecelakaan lalu lintas karena tebalnya kabut asap, hingga siswa yang harus menjalani sekolah dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena tidak aman untuk beraktivitas di luar rumah.
Baca Juga: Perkuat Jalur Sutra Maritim, Macao Gandeng Indonesia Garap Sektor Pariwisata hingga Produk Halal
Dampak buruk lain juga dirasakan oleh para relawan yang berusaha memadamkan karhutla.
Meskipun sudah memakai masker, para relawan mau tidak mau terpapar asap karhutla secara langsung dalam jarak yang sangat dekat.
Hal itu kemudian memengaruhi kesehatan para relawan pemadaman.
Seperti dua relawan pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah yang dikabarkan meninggal saat menjadi relawan, yaitu Ahmadin dan Akhmad.
Ahmadin merupakan Relawan Damkar Huma Singgah ltah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Puluhan Murid MIM di Klaten Diduga Keracunan usai Menyantap MBG, Ini Penampakan Menunya
Ia dikabarkan meninggal pada 30 Agustus 2026 malam setelah dirawat di RSUD Sultan Imanudin Pangkolan Bun karena sesak napas akibat asap.
Sedangkan Akhmad merupakan Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Ia meninggal pada 27 Agustus 2026 setelah dirawat 6 hari di RS Betang Pambelum.
Kondisinya drop saat sedang mengecek lokasi setelah pemadaman.
Akhmad memiliki riwayat hipertensi, dan meninggal diduga karena kelelahan dan pengaruh asap.
Editor : Meitika Candra Lantiva